Rukun NU

Saya tidak tahu apa itu NKRI dan apa itu khilafah. Yang saya tahu hanya bahwa saya NU. Itu pun saya tidak begitu tahu seluk beluknya. 

Akhir-akhir ini, saya kerap menemui sebuah keluhan, “Mengapa NU berubah?” 

Tidak penting bagi saya menghiraukan keluhan macam itu. Toh yang mengeluh bukan orang NU, atau hanya NU abal-abal, yang seakan-akan satu selimut bersama yang lain, tapi dia tidak memakai celana dan menebar virus HIV. 

NU tidak berubah. Kalau pun berubah, yang berubah hanya penganutnya. Dan sejauh pengamatan saya, penganut NU sekarang, tidak terlalu berbeda dengan penganut NU ketika itu. NU-nya Mbah Hasyim dan Mbah Wahab tidaklah berbeda dengan NU-nya Kiai Said Agil Siradj dan Kiai Salahuddin Wahid. Kalau Kang Idrus Ramli, agak berbeda, sih, memang. Aneh. Mungkin karena dia kurang begitu suka dengan NKRI, dan terlihat sekali–walau tidak sebegitu benderang–mendukung gerakan khilafah. Boleh jadi juga karena NU-nya orang itu ada garisnya. Garis Lurus, katanya. Dan dia merupakan dedengkotnya.

Tapi bagi saya, selama masih menjalankan rukun NU, dia, mereka, dan kita semua, masih bisa dikategorikan NU.

Rukun Iman ada enam. Rukun Islam ada lima. Dan rukun NU ada tiga.

1. Dalam Akidah mengikuti Asy’ari atau Maturidi. Kalau ikut-ikutan Ibnu Taimiyah atau paham Wahabisme yang mengakui Tiga Tauhid (Rubūbiyah, Ulūhiyah, dan Asmā’ was Shifāt) atau turut bertauhid Mujassimah (seperti percaya bahwa Allah punya tangan, mata, kaki, wajah, dan bukan dalam pengertian majaz) maka mereka tidak termasuk NU, walaupun berpakaian hijau.

2. Dalam Fikih menganut empat mazhab: Syafi’i, Maliki, Hanafi, dan Hanbali. Ada yang berpendapat bahwa hanya boleh memilih salah satu dari empat mazhab itu. Ada yang membolehkan berpindah mazhab dalam keadaan tertentu. Ada yang memperbolehkan menggunakan semuanya. Asal tidak keluar dari empat tersebut. Jika Fikihnya langsung kepada Alquran dan Sunnah, tanpa mazhab, maka bukan termasuk NU.

3. Dalam Tasawuf menganut Imam Ghazali dan/atau Imam Junaid Albaghdadi. 

Ada yang bertanya, “Apakah merokok juga bagian dari rukun NU.”

Saya menjawab, “Tidak. Ia hanya Min Bāb Mā Lā Yatimmul Wājib illā Bihī…

Toilet di Setiap Dinding

Di Mesir, ada sebuah kalimat menarik yang senantiasa relevan sejak zaman Firaun hingga dewasa ini: Kullu Jidār Hammām (Setiap dinding adalah toilet).

Hampir setiap hari penglihatan saya selalu terganggu oleh pria-pria Mesir yang menghadap tembok menyerupai peribadatan kaum Yahudi dalam peratapannya. Pria-pria Arab ini, baik yang masih remaja, dewasa, maupun yang sudah bau tanah, yang mengenakan celana membuka resletingnya, yang memakai gamis menyingkap gamisnya, dan sejurus kemudian tersembullah pusaka Rengkudewonya (ireng, kaku, gede, dan dowo) yang mampu memancarkan seni perairan.

Bahkan di malam hari, terkadang mereka berbuat lebih dari itu. Dari aroma kotoran yang dikeluarkan, pelaku pembuangan air besar ini hanya dilakukan oleh lelaki kelahiran sebelum 70-an.

Agaknya, budaya semacam ini memang sengaja tidak dihilangkan. Tadi pagi, saat mentari mulai mengepakkan sayapnya menghadiri undangan bumi, ketika saya sedang dalam penantian Bis jurusan Attabah, ada seorang ibu muda cantik hendak mengantar buah hatinya yang sepertinya masih TK ke sekolah. Anak kecil itu merajuk, “Ya Māmā.. Pipīss…” Ketika itu juga ibunya membuka resleting putranya dan menghadapkannya ke tembok.

Saya tetap terdiam. Pura-pura menatap langit agar tidak dicurigai mengintip. Saya menunggu lama, berharap ibunya melakukan hal yang sama. Tapi, penantian saya rupanya berujung sia-sia. 

Mungkin, karena inilah Kiai saya berpesan, “Mekkah itu kiblatnya salat, dan Mesir adalah kiblatnya ilmu. Maka rauplah sebanyak-banyaknya ilmu dari sana, bawa pulang semuanya, tapi jangan bawa pulang tradisinya.”

Mengapa Wanita?

Dalam literatur-literatur agama, sering kita menemukan tentang betapa bahayanya wanita. Tapi hampir tidak pernah kita temukan bahayanya pria. 

Barseso. Seorang ahli ibadah yang dalam 60 tahun usianya tidak pernah bermaksiat, yang semua santrinya bisa mabur dan miber seperti layang-layang, mampu berjalan di atas air laksana perahu kertas, tersandung dalam tragedi takdir suul khatimah diperantarakan selain karena minuman dan pembunuhan, juga karena wedokan.

Seorang pendeta yang dalam setengah abad lebih usianya digunakan hanya untuk bertapa, hidupnya berakhir mengenaskan oleh pengeroyokan tiga pemuda bersaudara, sedang ia dalam keadaan bersujud pada Iblis. Pasalnya, kemarin malam saat ia sedang bertapa, seorang gadis penggembala domba menginap di pertapaannya. Di tengah-tengah bertapa, tersingkaplah rok sang wanita. Dan itu adalah pertama kalinya peli sang pendeta ngaceng karena syahwat. Setengah ragu, burung akhirnya tetap masuk ke dalam sangkar yang bukan haknya. Iblis mengabarkan itu kepada tiga saudaranya, sekaligus menawarkan pertolongan pada sang pendeta. Pendeta terbunuh dan Iblis mengkhianatinya.

Bahkan sejak manusia pertama, konon, ia terusir dari surga juga lantaran wanitanya. Juga putranya, membunuh saudara kandungnya sendiri sebab berebut Wanita. 

Di dalam Alquran juga disebutkan, di antara macam-macam syahwat, yang disebutkan pertama adalah wanita. Dalam banyak Hadis juga kita diwanti-wanti agar menjauhi (aneka penyebab kedurhakaan yang disebabkan oleh) wanita.

Mengapa Wanita?

Ya. Memang demikian adanya. Namun, banyaknya disebut potensi bahayanya, bukan berarti dia melulu tokoh antagonis dalam kisah, atau pemeran jahat dalam drama. Bukan sepenuhnya salah Hawa tatkala Adam ikut memakan buah dari pohon terlarang. Sama sekali bukan salah Ikrima saat Qabil mengepruk dengan batu kepala saudaranya. Bukan salah penjaga warung ketika Barseso kemudian memerkosanya. Bukan salah wanita penggembala domba begitu seorang pendeta merenggut keperawanannya. Itu semua lebih kepada salah prianya. Dan karena itu, agama mewanti-wanti agar para pria hati-hati kepada wanita. Karena ini, hingga saat Qitfir menjumpai perselingkuhan Yusuf dengan Zulaikha, ia nyuding istrinya dan berkata, “Sesungguhnya godaan kalian sangat agung, wahai para wanita.”

Allah memuji dan mengangkat tinggi derajat para pria yang mampu menahan diri dari syahwat pada wanita.

Sayyidina Yusuf as. diangkat menjadi seorang nabi karena ia lari dari godaan Zulaikha, istri orang yang mencintai dan dicintainya.

Di antara tujuh golongan manusia yang diberikan payung kesejukan saat matahari berada sekilan di atas kepala adalah ketika seorang wanita cantik mengajak “aho-aho-aiwah-kedah-aiwah-kedah” (Min Bābil Ibāhiyyat al-‘Mashriyyat) dan si pria berkata, “Innī Akhāfu Allāh.”

Ketika tiga orang terkurung, terpenjara dalam gua, terbuka guanya karena salah seorang di antara mereka bertawasul dengan amalnya. Kepada keponakannya sendiri ia jatuh cinta. Keponakannya sudah mau karena terpaksa, butuh uang, untuk berobat ayahnya. Burung sudah berdiri tegang di hadapan rerimbun belukar si wanita. Hanya tinggal mak jedul, tapi pria itu lebih memilih meninggalkannya karena takut pada Tuhannya. “Jika saya melakukannya karena takut pada-Mu, bukakanlah jalan keluar dari gua ini.” Gua itu pun terbuka.

Mengapa wanita? Mengapa bukan pria?

Karena pria itu tidak bahaya. Pria yang bahaya adalah pria yang memiliki sifat wanita. Yang kepriaannya tidak sempurna. Yang lebih menonjol perasaannya ketimbang logikanya. 

Atau, pria yang menjadi budak wanita. Yang berdiri meringkuk di bawah ketiaknya. Yang tunduk, patuh, serta tumakninah di lubang silitnya.

Jangan duga para pencuri itu mencuri karena dirinya sendiri. Mereka mencuri untuk nafkah istri dan anaknya.

Koruptor berkorupsi itu bukan karena ia rakus terhadap harta. Jangan berprasangka buruk dulu. Mereka korupsi atas nama cinta. Cinta kepada istri. Istrinya sendiri. Istrinya tetangga. Istri dari adiknya. Istri  dari kariawannya. Atau istri dari suami sekretarisnya. 

Karena itu, selain kepada wanita, yang paling sering disebut-sebut agar dihindari keburukannya adalah harta. Sebab, pria itu moto wedokan, dan wanita itu mata duitan.

Allah berfirman: “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia, cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.” (Q.S. Ali Imran: 14)

Ayat di atas seakan-akan berkata: Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia, sehingga banyak yang kemudian rela melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Yaitu cinta terhadap apa yang diinginkan. Kepada para pria berupa perempuan-perempuan, dan anak-anak, Sementara wanita terasa indah dengan harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak serta aneka perhiasan lainnya yang termasuk juga tas, sepatu, dan kutang, kuda pilihan, yakni kendaraan mewah, hewan ternak dan sawah ladang, atau juga rekening yang bertumpuk-tumpuk. Itulah kesenangan hidup di dunia, yang sebenarnya boleh kamu turutin, selama masih berada dalam aturan Allah dan Rasul-Nya. Dan ingatlah, bahwa di sisi Allahlah yakni di akhirat nanti tempat kembali yang baik. 

Biasanya, Allah menggunakan sighat taghlib dalam memerintahkan sesuatu. Yakni, cukup menggunakan kata ganti maskulin untuk memerintahkan pria maupun wanita. Tapi dalam perintah menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan, Allah mengulangnya dua kali. Masing-masing mendapatkan perintahnya. Boleh jadi karena penyebabnya berbeda. Yang dilihat pria adalah keindahan wanita. Lalu, yang tidak kuasa menahan gejolaknya, ia akan melampiaskannya. Kepada wanitanya, kepada istrinya, kepada pacarnya, atau kepada imajinasi yang memanunggal dengan sabunnya.

Sementara wanita, yang dilihat pertama adalah harta, atau yang berhubungan dengan harta, yang melekat pada diri seorang pria. Lalu, yang tidak mampu menahan gejolaknya, oleh harta yang menyatu dengan cinta, ia rela mempersembahkan kemaluannya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

Itu sebabnya mereka diperintahkan: “Katakanlah, wahai Muhammad, kepada orang-orang beriman, yang laki-laki, hendaknya kamu menahan diri dengan cara menundukkan pandanganmu terhadap apa yang membuat burungmu berdiri bukan pada tempatnya. Seperti melihat bokong yang megal-megol. Susu yang menyembul atas pembuktian bahwa bumi itu bulat. Atau dengan menonton bokep. Tapi terkadang ada pandangan yang tidak sengaja, maka yang pertama tidaklah dihukumi dosa. Serta (kalau yang ini harus dilakukan dengan totalitas dan tidak bisa ditawar-tawar. Tidak ada pula kata “tidak sengaja”) jagalah kemaluanmu dari melampiaskannya pada sesuatu yang tidak dibenarkan dalam agama dan Pancasila. Yang demikian itu lebih suci bagimu. Sesungguhnya Allah Maha mengawasi atas apa yang kalian perbuat.

Dan katakan juga kepada orang-orang yang beriman yang wanita, agar mereka meminimalisir padangannya dari harta benda atau potensi kenyamanan hidup pada diri seorang pria serta agar mereka menjaga dengan totalitas kemaluan mereka dari mengumbarnya kepada siapa yang memberikan harta atau kenyamanan, kecuali dengan cara yang diperbolehkan oleh tuntunan agama. [Lihat Q.S. An-Nur 30-31]

Rasulullah saw. bersabda: “Takutlah pada harta, dan takutlah pada wanita.”

Arti Sebuah Nama

Kiai William Shakespeare pernah ngendiko, “What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.”

Ya, mawar akan tetap wangi walau seandainya kita menamainya entut. Seperti aku yang akan tetap mencintaimu meskipun tidak pernah berkata i love you. Dan aku akan tetap mencintai-Mu, Wahai Tuhanku, walau tanpa Asmaul Husna-Mu.

Namun demikian, nama tetaplah penting. Nama adalah identitas. Nama adalah sebuah wirid. Ketika aku tidak akan pernah melihat Tuhanku, aku bisa mengingat-Nya dengan menyebut nama-Nya. Ketika aku tidak pernah melihat nabiku, aku bisa berselawat mengharap syafaatmu melalui nama indahmu. Dan, dalam kitab suci, Tuhan juga kerap mengutuk para pendurhaka yang menyembah nama-nama tanpa identitas.

Di Jawa, nama kerap menjadi obat untuk penyakit yang bahkan dokter tidak mampu mendiagnosis. Ketika Kusno Sosrodihardjo masih balita, ia pernah mengalami penyakit yang aneh. Dibawa ke sana ke mari tidak sembuh-sembuh. Sampai akhirnya, nama Kusno Sosrodihardjo diganti menjadi Soekarno, ia bukan saja sembuh dari penyakitnya, tapi kelak, ia bahkan menjadi presiden pertama di Indonesia.

Di Jawa, Asmo mono kinaryo jopo. Nama adalah sebuah doa. Dulu, mbah saya menamai bapak saya dengan nama “Sokran”, karena terinspirasi temannya yang bernama Sokran, bisa naik haji. Dan impian Mbah keturutan. Setelah itu, atas usulan dari kiainya Bapak, namanya diubah menjadi “Syukron”. Bukan karena kata “Sokran” berarti “mabuk” (berasal dari bahasa Arab سكر), sebab Bapak tetap bersikukuh bahwa “Sokran” adalah “gula” atau “manis” (berasal dari bahasa Arab سكار), tapi karena nurut sama kiai, akhirnya Bapak mengiyai, dan akhirnya menjadi kiai.

Ijazah saya, berbeda-beda penulisannya. Ada yang Muhammad Nuhid, Muhammad Nukhit, dan Muhammad Nukit. Ternyata yang benar adalah Muhammad Nuchid. Bapak bilang, itu jangan diubah. Muhammad Nuchid (dengan huruf c sebelum h). Tulisan Arabnya نحيد yang sebenarnya artinya adalah “menyeleweng”. Tapi Bapak saya tidak peduli. Saya tidak boleh mengubahnya. Itu pemberian dari kiainya di Langitan. Karena saat itu katanya pernah ada santri Langitan yang bernama Muhammad Nuchid, dan dia hafal Alquran. Dalam secarik kertas, sang kiai menuliskan Muhammad Nuchid/محمد نحيد dengan harapan nanti bisa hafal Alquran.

Bapak saya pernah berkata, “Jika ada kiai yang mengijazahimu wirid, meskipun nahwunya salah, jangan diubah. Wirid itu bukan wilayah nahwu saraf. Kalau kauubah, nanti malah gak mandi wirite.”

Dan Alhamdulillah harapan Bapak dan kiainya itu keturutan, meskipun keduanya tidak sempat menyaksikan. Allāh Yarhamhumā

Setelah tercapai harapan itu, atas usulan kiai saya, saya mengubah tulisan Arabnya yang asalnya نحيد (menyeleweng), menjadi نوحد (bertauhid). Tapi saya enggan mengganti tulisan latinnya.

Saat hendak berangkat kuliah ke luar negeri, saya harus menerjemahkan ijazah. Transliterasi Muhammad Nuchid menjadi محمد نوحيد. 

Sesampai di universitas luar negeri itu, ketika saya melakukan Ijraat … 

“Ini Nūhīd atau Tauhīd?” Orang Syuun bertanya.

“Nūhīd.” Aku menjawabnya.

“Apa artinya?”

“Tampan, pintar, baik hati, tidak sombong, dan rajin menabung. Itu bahasa Indonesia.”

“Tidak! Ini bahasa Arab. Dan ini adalah salah satu nama dari nama-nama Firaun. Ganti Tauhid saja, ya?”

La’ah, Ya ‘Ām. Itu nama pemberian dari ayah saya.”

“Nanti saya yang banca’i.”

“Nggak, nggak, nggak. Nanti berpengaruh sama ijazah.”

“Tidak.”

“Tapi …”

Dan nama saya beneran ditulis Muhammad Tauhid.

Ingin Dikenang

Di antara sifat yang melekat pada setiap diri manusia adalah ingin diakui keberadaannya. Dari sini, mereka berusaha melakukan apapun untuk kemudian dikenang oleh orang yang bersamanya, orang setelahnya, hingga generasi yang akan datang selanjutnya.

Ada yang ingin dirinya abadi dalam buku. Ia menulis karya ilmiah, novel, cerita pendek, dongeng, puisi, monolog, dan naskah-naskah lainnya. 

Ada yang mengabadikan dirinya dalam sebuah gambar. Setiap momen dalam hidupnya difoto. Mau makan difoto, mau tidur difoto, mau ngising difoto. 

Ada yang ingin mencapai keabadian dengan mendirikan suatu institusi. Perusahaan, sekolahan, pesantren, rumah sakit, rumah sembuh, dan seterusnya.

Ada pula yang ingin menggapai keabadian itu melalui keturunan. Lalu mereka mencari wanita yang bokong gede. Katanya, yang begitulah yang mana’an.

Dan lain sebagainya. 

Rasanya, kebahagiaan hanya berada di sana. 

Tidak heran jika seseorang kemudian demikian frustrasi saat naskahnya ditolak. Lalu ia melampiaskan kefrustrasiannya dengan seslob rokok dan tujuh botol oplosan. 

Tidak heran jika seseorang demikian patah hati sekaligus gigit dua jari saat ia tidak berhasil berfoto dengan artis, tokoh, atau ulama yang diidolakannya. Bahkan pernah ada pacar yang diputuskan dan istri yang diceraikan hanya sebab tidak mau difoto saat berciuman atau berhubungan badan. 

Tidak heran jika kemudian seseorang merasa dirinya paling menderita ketika harus gulung tikar dari usahanya. Atau seorang guru yang merelakan kapurnya nganggur karena ditinggal siswanya. Atau kiai yang harus menutup kitab kuning, melepas peci putih, dan mencukur jenggot lantaran ditinggal santri-santrinya. Atau dokter yang obat-obatannya nganggur karena tidak ada orang sakit di daerahnya.

Tidak heran jika seseorang demikian getun saat mengetahui salah satu pasangannya mandul. Padahal bokong istrinya sudah besar. Ada yang tetap bertahan sambil terus menerus berdoa dan berharap, kendati selalu dirundung kegelisahan serta kekecewaan. Tapi, banyak sekali yang kemudian memutuskan untuk berpisah, atau tetap bersama dalam satu atap dua, tiga, atau empat cinta, atau dengan cara diam-diam mencari sperma atau ovum yang lain. 

Semua itu hanya karena satu hal: ingin dikenang.

Kita lupa jika manusia juga memiliki sisi yang lain. Lupa. Manusia dinamai Insān (إنسان) karena seringnya lupa. Dan manusia dinamai Man Nusiya (من نسي) karena mereka akan terlupakan. Oh, bukan. Lebih tepatnya DILUPAKAN.

Dunia sudah hampir tenggelam dalam lumpur hitam senja. 

Jangan tergiur dengan cahaya jingga kemerah-merahan di tempat tenggelamnya matahari itu. 

Karena besok pagi kita akan terbangun dengan menyaksikan mentari pagi terbit dari sana. 

Besok pagi kita akan melihat embun berubah menjadi api. 

Lalu hujan sperma melanda bumi.

Semua yang telah mati dibangkitkan kembali. 

Bumi akan sangat sesak. 

Lalu gunung-gunung meledak. 

Isi perutnya tumpah ruah seperti berak. 

Lautan disiramkan menjadi sunami.

Kita tenggelam tapi tidak mati. 

Kita pingsan. 

Lalu sadar-sadar sudah berada di padang mahsyar sahara yang amat sangat luas. 

Semua orang di sana telanjang. 

Aku telanjang. Kamu telanjang. Dia telanjang. Jokowi telanjang. Habib Rizieq telanjang. Firza telanjang. Anies Baswedan telanjang. Mama Dedeh telanjang. Ummi Pipik telanjang. Prilly telanjang. Ariel Tatum telanjang. Dian Sastro telanjang. Chelsea Islan telanjang. Zaskia Mecca telanjang. 

Kau akan melihat semua lekuk tubuhnya.

Tapi kau tidak akan terangsang.

Burungmu loyo dan tidak akan mampu berdiri. 

Kau sibuk dengan urusanmu sendiri.

Kita sibuk dengan urusan kita masing-masing. 

Tuhan memberikan catatan kehidupan kita yang telah ditulis oleh Rakib dan Atid.

Kita merasa bangga karena jalan hidup kita telah dinovelkan. Bukan oleh Kang Abik, Andrea Hirata, Tere Liye, atau bahkan J.K. Rowling. Tapi oleh malaikat. Kolaborasi Rakib dan Atid. 

Namun, setelah kita membukanya kita akan menangis. 

Dengan tangisan darah yang mendidih oleh penyesalan.

Dan berusaha menyembunyikan novel itu di tempat yang jangan sampai orang lain menyaksikan.

Tapi tidak ada lagi tempat persembunyian. 

Novel itu kemudian difilmkan. 

Kita semakin malu. 

Dan berharap kematian segera menghampiri. 

Padahal tidak ada yang ingin tahu kisah hidupmu. 

Semuanya sibuk dengan cerita masa lalunya masing-masing. 

Lalu kau bukan lagi menjadi siapa-siapa. 

Juga bukan apa-apa. 

Kau dilupakan. 

Kau sendirian.

Kenanganmu hanya untukmu.

“Dan sungguh, kalian akan datang kepada Kami sendiri-sendiri, sebagaimana Kami menciptakan kalian pertama kali.” (Q.S. Al-An’ām [6]: 94)

Azizah dan Hasanah

Dahulu, saat saya masih kecil. Bapak pernah mengajak untuk menghadiri haul K.H. Musthofa, pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah, Kranji. Penceramahnya ketika itu adalah Gus Dur.

Di awal-awal ceramahnya, sebagaima biasa, Gus Dur menyuguhkan aneka anekdot sebelum masuk ke materi pengajian. Antara lain yang masih saya ingat dari rangkaian anekdot itu adalah:

Ada seorang pria bersama istrinya, Azizah, menunaikan haji. Saat tawaf, ketika membaca doa “Rabbana Atina fid Dunya Hasanah wa fil Akhirati Hasanah.” Istrinya nesu. 

“Mengapa kamu nesu?” Suaminya bertanya.

Setelah mengerucutkan bibirnya agak lama, Azizah menjawab, “Sejak semula kamu memang lebih naksir sama Mbak Yu Hasanah. Sampai-sampai ke Mekkah pun kausebut-sebut namanya. Ngarep banget ya sama dia?”

Mungkin karena termasuk dalam komunitas suami-suami takut istri, lalu pria itu pun mengganti doanya, “Rabbana Atina fid Dunya Azizah. Wa fil Akhirati Azizah.” 

Cerita itu sudah terpatri dalam benak saya selama lebih kurang 20 tahun. Dan selama itu saya terus-terusan berprasangka buruk pada Azizah. Saya pikir, Azizah adalah orang yang tidak pernah ngaji.

Hingga akhirnya, setelah saya baca-baca kitab tafsir. Ehm. Cie, dong… Antara lain dalam Al-Kasysyaf, karya Al-Zamakhsyari, dalam menafsirkan ayat ini mengutip sabda Sayyidina Ali: “Rabbana Atina fid Dunya Hasanah: Tuhan Pemeliharaku, anugerahkanlah aku perempuan yang cantik paras dan perangainya. Wa fil Akhirati Hasanah: Dan anugerahkanlah aku bidadari-bidari yang jelita. Wa Qina Adzabannar: Dan jauhkanlah aku dari wanita yang buruk rupa.”

Dan kemarin saya baru tahu. Ternyata Azizah memang tidak lebih cantik dari kakak perempuannya, Hasanah. Dan agaknya, ia sudah tahu tafsir ayat itu sejak lama.

Pesan moral yang dapat diambil dari tulisan indah ini adalah:

1. Jika Anda makhluk lajang (baca: jomblo) Anda bisa berdoa dengannya untuk mendapatkan istri yang cantik. 

2. Jika Anda seorang istri yang belum siap suaminya menikah lagi, pantaulah suami Anda untuk tidak terlalu sering berdoa dengan ini. Apalagi Anda tidak cantik. Apalagi bacanya di Mekkah. Wah.. Bahaya, Jeng. Doa di sana mustajab, loh. Anda bisa tersingkirkan.

Serban, Jubah, dan Serba-Serbi Ramadan

Ramadan. Bukan Ramadhan. Bukan Romadhon. Bukan Romadlon. Apalagi Ramelan. 

Jangan duga ia hanya sekadar kata. Ia adalah nama. Harus ditulis dengan sebenarnya. 

Memang, banyak sekali istilah dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Arab. Tapi karena sudah diserap, maka harus benar-benar terserap. Harus mengikuti aturan bahasa Indonesia. Dan dalam bahasa Indonesia, hanya ada empat gabungan huruf yang melambangkan satu konsonan, yaitu: kh, ng, ny, dan sy. Maka tidak ada dh, dl, dan lain sebagainya (seperti sh, dz, gh, th, ts, dll). Juga, dalam aturan serapan, bacaan tebal dalam huruf-huruf Hijaiah yang memiliki baris atas (fathah), harus ditulis dengan “a”, bukan “o”. Meskipun cara bacanya boleh tetap dengan “o”. Tulisannya “Ramadan”, tapi boleh dibaca “Romadhon” sesuai versi Arabnya: رمضان

Salat. Bukan shalat. Bukan sholat. Bukan solat.

Tarawih. Bukan teraweh. Bukan tarweh. 

Isya. Bukan Isyak. Bukan Isya’.

Subuh. Bukan Shubuh.

Zuhur. Bukan Dzuhur. Bukan Juhur.

Asar. Bukan Ashar.

Magrib. Bukan Maghrib. 

Musala. Bukan mushola. Bukan mushalla. 

Alquran. Bukan Al-Qur’an. Bukan al-Quran. 

Hadis. Bukan Hadits.

Khataman. Bukan qotaman. 

Empat juz. Bukan empat milyar campuran. Lucu ya, orang-orang itu. Istilah-istilah keberagamaan digunakan sebagai istilah kezaliman.

Ustaz. Bukan ustad. Bukan ustadz. Bukan ustas. Bukan ustak. Banyak orang memanggil saya “Ustadz”. Saya katakan pada mereka, “Jangan panggil saya ‘Ustadz’.” Mungkin mereka kemudian menduga saya Tawadu. Padahal yang saya kehendaki, “Panggil saya ‘Ustaz’, bukan ‘Ustadz’. Itu tidak sesuai dengan KBBI.”

Kiai. Bukan kyai. Bukan kiyai.

Kultum. Bukan qultum.

Tausiah. Bukan taushiyah.

Nasihat. Bukan nasehat. Bukan nashihat.

Istigfar. Bukan istighfar. Bukan istipar. 

Doa. Bukan do’a. Bukan du’a’. Doa istri salehah. Bukan dua istri yang manja.

Amin. Bukan Aamiin. Bukan Amien Raies. Bukan Amintabah.

Iktikaf. Bukan i’tikaf. 

Istikamah. Bukan istiqamah. Bukan istiqomah.

Beduk. Bukan bedug. Bukan beud.

Azan. Bukan adzan. Bukan ajan.

Sahur. Bukan saur. Bukan sakur.

Buka puasa. Bukan buka katok. Tapi ada juga, sih, riwayat yang menganjurkan agar buka puasa dengan “buka katok”. Lalu mandi besar, salat Magrib, makan, salat Isya, Tarawih, lalu melanjutkan ibadah-ibadah lainnya dan tidak terganggu lagi dengan tema “buka katok”. 

Serban. Bukan surban. Bukan serbet.

Jubah. Bukan Jubaidah. Kalau digoyang, uh ah uh ah.