Maafkan Aku, Tuhan

Maafkan aku, Tuhan

Yang mencintai-Mu tanpa hati

Yang menyatakan cinta tanpa rasa

Yang mengaku rindu tanpa air mata 

Maafkan aku, Tuhan

Yang tidak pernah memohon ampunan

Yang memenuhi hati dengan begitu banyak kecurigaan

Yang pada kematian saja ketakutan

Maafkan aku, Tuhan

Yang tidak memiliki kesantunan

Yang mengirim puisi hanya melalui blog gratisan

Bukan dengan derai air mata di tengah malam

Maafkan aku, Tuhan…

Warung Teologi (Part 1) “Iman dan Islam”

 

Pramusaji : Ahmad Rofi’

 

Pengertian Iman dan Islam

Menurut bahasa, Iman bermakna percaya atau membenarkan sesuatu. Sedangkan dalam sudut pandang istilah Iman adalah membenarkan segala sesuatu yang datang dari Rasulullah, yang bersifat dharuri. (Dharuri yang dimaksud disini bukanlah dharuri yang biasa dikenal dalam istilah ilmu Mantik. Dharuri di sini adalah Syibh Dharuri. Pada mulanya ia adalah nadzari, tapi karena sudah adanya penalaran para ulama sejak munculnya Islam, sehingga menjadi masyhur sampai di kalangan orang awam, maka seakan-akan ia adalah dharuri) Yakni, membenarkan dalam arti percaya dan menerima hal-hal tersebut, baik secara umum terhadap hal yang ijmali, maupun secara terperinci pada hal yang tafshili.

Adapun Islam menurut bahasa berarti tunduk atau berserah diri. Menurut istilah, Islam adalah melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, yakni mengikuti dan menaati apa yang datang dari Rasulullah, yang bersifat dharuri.

Dari pengertian tersebut menunjukkan bahwa Iman itu berkaitan dengan urusan batin seseorang, karena adanya pembenaran terhadap sesuatu atau keyakinan atasnya merupakan pekerjaan hati. Sedangkan Islam berhubungan dengan perbuatan lahirnya, karena tanda-tanda ketaatan orang tersebut dilihat dari apa yang tampak dari dirinya.

Terkait orang yang beriman itu cukup percaya dengan hatinya, atau harus disertai pelafalan atau ikrar dengan lisan, atau juga harus disertai adanya amal, ulama berbeda pendapat dalam menempatkan kedudukan dua hal tersebut dalam Iman. Mayoritas ulama Asyari dan Maturidi berpendapat bahwa ikrar adalah syarat dari iman, dan amal merupakan syarat kesempurnaan iman, sehingga keduanya tidak termasuk dalam pengertian atau bagian dari Iman. Jadi, kepercayaan seseorang dalam hatinya adalah hal yang menyelamatkannya dari keabadian di neraka, dan ikrarnya dengan lisan yang mempengaruhi perlakuan hukum di dunia terhadapnya, sedangkan amal perbuatannya adalah gambaran kesempurnaan imannya.

Ada yang berkata, pelafalan lisan adalah bagian dari iman, sehingga tidak diakui iman seseorang sampai ia mengikrarkannya. Ada pula yang mengatakan bahwa selain percaya dan berikrar, juga harus disertai dengan amal supaya diterima iman seorang tersebut. Perbedaan pendapat ini yang kemudian memunculkan kelompok-kelompok seperti Khawarij dan Muktazilah.

Namun, perbedaan pendapat para ulama tentang dibutuhkannya beberapa unsur dalam keimanan tersebut, sesungguhnya diperuntukkan bagi orang yang kafir asli ketika hendak masuk Islam. Sedangkan orang yang terlahir dari orangtua yang Islam, tidak lagi dituntut untuk berikrar sebagai bukti keimanannya dan dasar perlakuan hukum di dunia terhadapnya.

 

Keterkaitan Iman dan Islam

Iman dan Islam dari pengertiannya menunjukkan makna dan cakupan yang berbeda, meskipun keduanya ber-talazum (saling berkaitan) menurut syariat, dilihat dari obyeknya (yang melekat padanya status Iman atau Islam), setelah sama-sama dilihat dari satu sudut pandang yaitu sisi yang diakui dari keduanya. Jadi, tidak ada orang yang beriman, yang bukan muslim, dan juga tidak ada orang muslim, yang tidak beriman.

Adapun pernyataan adanya orang yang sudah beriman tapi belum Islam, atau orang yang sudah Islam tetapi belum beriman, hal ini bisa dibenarkan ketika hanya melihat bahwa Iman adalah pekerjaan hati dan Islam adalah pekerjaan fisik, tanpa memandang syarat dan ketentuan bagi keduanya untuk diakui menurut syariat. Maka, orang yang hanya percaya pada Allah dan apa yang diturunkan pada Rasulullah tapi tidak melaksanakan perintah-perintah-Nya, dia adalah orang yang beriman, tapi tidak Islam. Orang yang turut serta melakukan kegiatan keagamaan, tapi jika dalam hatinya tidak percaya pada Allah dan apa yang diturunkan pada Rasulullah, maka ketika itu dia orang Islam tapi tidak beriman.

Perbedaan sudut pandang dalam menggunakan istilah tersebut berpengaruh dalam menghukumi keimanan dan keislaman orang munafik dan kaum kafir Quraisy. Orang munafik, secara lahir ia Islam, tetapi batinnya tidak benar-benar beriman. Sedangkan kaum kafir Quraisy dalam beberapa riwayat ada yang menyatakan kebenaran risalah Ralulullah tetapi tidak mengikuti dan menaatinya, percaya (beriman) tetapi tidak tunduk dan taat (Islam). Meskipun begitu, keduanya secara syariat (di hadapan Allah) tidaklah beriman maupun berislam.

 

Bertambah dan Berkurangnya Iman

Ulama berbeda pendapat apakah iman dapat bertambah dan berkurang atau tidak. Pendapat yang rajih menyatakan bahwa Iman dapat bertambah dan berkurang dengan bertambah dan berkurangnya amal. Karena kepastian bahwa iman orang-orang yang fasik tidaklah sama dengan iman para Shiddiqin, Anbiya, dan para Rasul. Selain itu, ada pula dalil-dalil dari Alquran maupun Hadis yang secara lahir membahasakan bertambah dan berkurangnya Iman.

Ada pula yang mengatakan Iman tidaklah bertambah dan tidak pula berkurang, karena pembenaran hati yang mencapai batas yakin tidak tergambarkan adanya bertambah maupun berkurang di dalamnya. Ketika kepercayaan berkurang, maka merupakan dzan (prasangka), dan itu bukanlah Iman.

Menanggapi perbedaan tersebut, ada yang mengatakan bahwa perbedaan disini bukanlah secara hakiki, melainkan secara lafzi saja. Dengan gambaran, perbedaan tersebut bermula dari perbedaan tentang hakikat Iman itu sendiri seperti dijelaskan dalam pengertian Iman, bahwa Iman itu mencakup adanya ikrar dan amal atau tidak. Jadi, bertambah dan berkurangnya Iman diarahkan terhadap makna Iman yang mencakup kesempurnaannya, yakni dengan bertambah dan berkurangnya amal atau ketaatan seseorang. Dan yang menyatakan bahwa Iman tidak bertambah dan tidak berkurang diarahkan pada sisi pembenaran yang bersifat qalbi dari makna Iman.

Namun demikian, mayoritas ulama menggabungkan perihal bertambah dan berkurangnya iman dalam tiga macam :

  1. Iman yang dapat bertambah dan berkurang, yaitu iman manusia dan jin pada umumnya. Melihat adanya keterpautan dalam ketaatan mereka yang berkaitan dengan kesempurnaan Iman.
  2. Iman yang bertambah dan tidak berkurang, yaitu iman para Nabi dan Rasul. Karena orang yang sempurna (yakni para Nabi dan Rasul) menerima adanya kesempurnaan, dan tidak menerima adanya kekurangan, termasuk dalam hal Iman.
  3. Iman yang tidak bertambah dan tidak berkurang, yaitu imannya para malaikat. Karena Iman mereka merupakan jibillah, yakni asli dari tabiat diciptakannya mereka. Dan hal yang merupakan tabiat itu tidak ada keterpautan di antara pemiliknya.

 

Tingkatan Iman

Ditinjau dari dasar Iman seseorang, muncul pengelompokan Iman yang menunjukkan tingkat keimanan mereka, yakni Iman yang didasari :

  1. Taqlīd, yaitu iman yang timbul dari mengikuti ucapan seorang guru tanpa adanya dalil. Iman ini bagi orang-orang awam.
  2. ‘Ilm, yaitu iman yang timbul dari pengetahuan terhadap akidah-akidah disertai dalil-dalilnya. Iman ini adalah bagi orang-orang yang memiliki pengetahuan.
  3. ‘Ayān, yaitu iman yang timbul dari adanya pengawasan hati terhadap Allah sekiranya tidak luput dari-Nya walau hanya sekejap mata. Inilah Iman orang-orang ahli murakabah.
  4. Haqq, yaitu iman yang timbul dari kesaksian atau penglihatan hatinya terhadap Allah. Ini adalah Iman orang-orang yang arifin dan disebut sebagai ahl al-musyahadah.
  5. Haqīqah, yaitu iman yang timbul dari ketiadaan kesaksiannya selain pada Allah. Dan ini merupakan Iman orang-orang waqifīn, atau yang disebut sebagai ahl fanā’. Karena mereka meniadakan segala sesuatu selain Allah, dan tidak menyaksikan kecuali Allah.

Adanya pengelompokan ini sesuai dengan pendapat mayoritas ulama yang menyatakan bahwa Iman orang yang betaklid tetap sah, sehingga bisa menyelamatkannya dari kekalnya yang bersangkutan di neraka. Dan dalam redaksi lain masih ada pengelompokan tingkat Iman seseorang yang didasari dengan taklid.

 

Pokok dari Akidah

Dalam agama Islam dikenal adanya sebutan Kalimat Al Islam, yaitu kalimat Lāilāhaillallāh Muẖammadurrasūlullāh. Ini merupakan dua jumlah kalimat yang menjadi pokok atau sumber dari semua pembahasan dalam ilmu Tauhid. Kandungan makna dari kedua kalimat tersebut menunjukkan Islam itu sendiri sehingga dinamakan demikian. Segala permasalahan akidah muncul darinya, baik yang berkaitan dengan ketuhanan, kenabian, maupun kepercayaan terhadap segala yang diberitakan oleh Rasulullah, yang masuk pembahasan Sam’iyāt.

 

Tambahan tentang Iman

Iman adalah makhluk. Dalam arti, Iman adalah hal yang diciptakan Allah, sehingga bersifat hādits (hal yang baru). Karena adakalanya Iman itu (muncul) bersamaan dengan (munculnya) pembenaran (keyakinan) dalam hati atau bersama ikrar dengan lisan, yang keduanya merupakan makhluk.

Adapun ketika dikatakan bahwa Iman itu qadīm, yakni dengan memandang adanya hidayah, yang hidayah itu sendiri merupakan sesuatu yang hādits. Sedangkan Iman itu qadīm, maka hal itu keluar dari hakikat Iman. Maksudnya, mengatakan qadimnya Iman bisa dibenarkan jika yang dilihat adalah ketetapan Allah yang Azali (Qadha’) terkait Iman tersebut, bukan hakikat Iman sesuai maknanya. Allahu A’lam. []

Dua Kelompok Besar di Indonesia

Setelah 24 tahun, 4 bulan, dan 10 hari penelitian, akhirnya saya dapat menyimpulkan bahwa rakyat Indonesia itu terbagi dalam dua kelompok besar. Pertama, kelompok orang-orang pintar. Kedua, kelompok orang-orang saleh.

Orang-orang yang pintar adalah orang-orang yang mendukung Jokowi berikut program-programnya. Orang-orang yang saleh adalah orang-orang yang membenci Jokowi, Kaesang, Ahok, dan anak cucunya kelak. 

Saya sebenarnya berada di manzilah bainal manzilatain, yaitu golongan orang-orang yang ganteng. Tapi kata Pak Guru, itu pendapat muktazilah yang sesat, jadi saya harus memilih satu di antara dua.

Kalau disuruh memilih, tentu saya akan memilih menjadi kelompok orang-orang pintar. Karena orang pintar itu kalau masuk neraka pun, akan menikmati. Malah sangu rokok. Enak, nggak usah bawa korek. Karena korek di dunia itu mirip kayak pacar, kalau nggak ilang, dipinjem teman nggak dibalikin. Kalau orang saleh hanya saleh, itu nelangsa. Meskipun jatahnya masuk surga, mereka nggak bisa cara membuka pintunya. Harus nunggu yang pintar keluar dari neraka dulu. Kalau sudah masuk, mereka juga tidak tahu cara menikmatinya. Harus ikut kajian Rodja TV dulu. 

Anda termasuk yang mana?

Tentang Ciuman Bibir

Dalam banyak tulisan, berkali-kali saya menerakan bahwa ada perbuatan baik yang harus dipublikasi, ada perbuatan baik yang boleh dipublikasi, ada perbuatan baik yang sebaiknya tidak dipublikasi, dan ada perbuatan baik yang haram dipublikasi. 

Perbuatan baik yang haram dipublikasi antara lain adalah hubungan seks antara pasangan suami istri. Memang, dalam hubungan seks tersebut ada pahala, tapi memublikasikannya, lebih besar dosanya ketimbang pahalanya.

Banyak yang belum paham tentang hal ini. Mereka mengutuk demikian dahsyat kepada yang memosting foto salat, atau foto tubuhnya yang kerempeng karena terlalu banyak puasa, atau foto puzzle-puzzle tasbih yang pretel berserakan karena seringnya dipakai wiridan, atau foto berlatar belakang kakbah, atau yang mengumumkan sedekahnya dalam pembangunan masjid-masjid dan santunan yatim piatu, tapi malah memberi tepuk tangan pada pasangan yang memamerkan kemesraan bukan pada tempatnya. 

Hal ini bukan saja dapat menyakiti mereka yang masih jomblo, (Uhuks, sorri, Bro!) tapi juga terkecam dalam agama lantaran dapat mengundang nafsu birahi.  

Yang saya maksud hubungan seks bukan hanya perilaku bersebadan yang itu, tapi juga dalam pemanasannya yang antara lain adalah ciuman bibir. 

Oh, Tuhan… Jangan siksa hamba-hamba-Mu yang tidak mengerti tentang hal ini. Barangkali mereka menganggap semua itu kebaikan, dan berlipat ganda kebaikannya jika dipublikasikan, karena boleh jadi ia telah dan hanya belajar Hadis tentang Man Sanna Sunnatan Hasanatan atau Man Sanna In Corporesano.

Ciuman bibir itu sebaiknya, maksud saya seharusnya… mmm, maksud saya, harus. Harus tidak dilakukan di tempat umum, secara langsung maupun melalui media sosial. Bukan hanya antara pasangan suami istri, apalagi pacar. Tapi juga ciuman persahabatan yang mulai marak di kalangan gadis-gadis masa kini, ciuman ibu kepada anaknya, kakak pada adiknya, apalagi anak perempuan kepada ayahnya seperti yang belum lama ini ditunaikan oleh pemopuler lagu “Sambalado” itu. Terasa pedas. Terasa panas.

Jika hal ini terus dibiarkan, lama-lama akan menjadi sebuah kewajaran. Dan kemudian tidak lagi dianggap sebagai keburukan. 

Dek, ketahuilah, sesungguhnya cinta bukanlah ajang pameran. Cinta adalah fitrah yang sakral, yang sebaiknya ditutup rapat-rapat agar dapat mengantar pada nikmat. Bukankah ketupat yang semakin rapat akan semakin nikmat?

Ngerti ora? Dasar Ndeso!

Menabung Untuk Buku (2)

Ada yang berkata, “Orang-orang saleh itu rezekinya dicukupkan Allah.” 

Ungkapan tersebut ada benarnya, tapi banyak salahnya. Saya tidak akan berbicara tentang kenikmatan-kenikmatan yang telah melekat seperti pancaindra, kesehatan, dan lainnya yang tak terhitung jumlahnya. Jika saya menyebut kata “rezeki”, maka yang saya maksud adalah rezeki material, atau rezeki eksternal.

Ungkapan itu banyak salahnya, karena pada kenyataannya, Allah selalu mencukupkan rezeki pada semua makhluknya, yang saleh maupun yang belum saleh, atau yang tidak saleh, bahkan yang tidak akan pernah saleh. Bukankah kita lihat banyak sekali orang yang tidak pernah salat, tapi hidupnya berkecukupan. Dan bukankah kita melihat banyak sekali orang saleh yang sebenarnya sudah dicukupi tapi merasa kurang?

Rezeki ada di tangan Allah, dan akan diberikan kepada siapa saja yang bergerak. Bergerak dalam arti kerja, maupun bergerak dalam arti hidup. Karena tidak ada orang yang bekerja tapi tidak hidup. Kecuali penjual sate di film-film Susana, atau hantu-hantu narsis di Dunia Lain dan Uka-Uka.

Semua orang yang hidup, pasti dijamin rezekinya. Jika jatah rezekinya telah habis, maka kematian akan menghampirinya. Barangkali itu sebabnya mengapa orang-orang yang mati syahid dikatakan, “Jangan duga orang-orang-orang yang terbunuh dalam peperangan di jalan Allah adalah orang-orang mati. Mereka itu hidup dan masih selalu diberikan rezeki.”

Rezeki sudah dijamin. Keinginan pasti akan tercapai jika disertai dengan niat, yakni tekad yang kuat. Kita telah melihat begitu banyak orang yang seakan tidak mampu, hanya penjual bubur misalnya, tapi mampu naik haji. Atau bukankah banyak yang sudah berumah tangga, punya anak, belum punya kerja, tapi mampu bayar SPP anaknya, mampu beli motor walau kredit? Dan banyak lagi yang lainnya.

Tapi, semua ada prosesnya. Hukum alam yang kemudian bekerja. Kun Fayakun Allah bukanlah bim salabimnya para penyihir. Dia menyukai proses hamba-Nya sebagai ujian siapa yang paling baik kualitas amalnya.

Menabung untuk buku adalah salah satu upaya meningkatkan kualitas amal. Karena membaca adalah perintah pertama yang diturunkan Tuhan dalam ayat suci-Nya.

Orang yang menabung untuk buku, pasti mampu membeli buku. Sebagaimana orang yang menabung untuk lainnya, walau dalam rangka kemaksiatan, pasti akan tercapai keinginannya, selama ia tidak berputus asa atau berbelok arah.

Tabungan bisa cepat terkumpul bergantung upaya kita dan tentu saja kehendak Tuhan. Dalam postingan “Menabung Untuk Buku” yang pertama, saya ceritakan betapa berlikunya hingga saya dapat membeli Tafsīr al-Thabarī. Dan selanjutnya, saya hendak menabung lagi untuk membeli Tafsīr al-Sya’rāwi (20 jilid) yang juga sudah lama sekali saya idam-idamkan. Akhirnya terbeli juga, bahkan sebelum uangnya masuk ke celengan. Malahan, masih lebih, dan kembaliannya bisa terbelikan Shafwah al-Tafāsīr (3 jilid) karya Syekh Ali ash-Shabuni dan Al-Ibdā’ Syarh al-Ijmā’ karya Syekh Muhammad bin Ibrahim al-Naisaburi yang disyarah oleh Syekh Akram bin Hamdin.


Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi adalah salah satu ulama Mesir yang demikian fenomenal, yang dikenal oleh masyarakat Mesir baik di kalangan intelektual maupun orang-orang awam. Ia juga termasuk ulama kontemporer yang keharuman namanya tercium di seluruh dunia. Beliau disebut-sebut oleh para ulama sebagai wali Allah dan mujaddid yang hanya ada sekali dalam kurun seratus tahun.

Saya sendiri mengenal pertama kali saat saya membaca Tafsir al-Mishbah-nya guru kami, Yai M. Quraish Shihab. Di sana, sering sekali Pak Quraish mengutip pendapat gurunya itu. Sewaktu masih di Indonesia, salah satu diktat yang kami pelajari di pesantren adalah Tafsīr asy-Sya’rāwī ini, yang diampuh oleh Dr. K.H. Husnul Hakim. 

Sesampai di Mesir, saya melihat foto Syekh Sya’rawi ada di mana-mana. Bahkan di setiap usaha di pinggir jalan, hampir semuanya ada foto Syekh Sya’rawi terpajang. Dan pengalaman yang paling indah di antara semua itu adalah: kami dipertemukan oleh Allah dalam sebuah mimpi yang begitu memesona.

Bayt al-Qur’an Mesir Gelar “Warung Teologi”

NUHIDIYAH.NEWS, KAIRO — Mulai bulan Juli 2017, para mahasiswa alumni Bayt al-Qur’an (BQ)-Pusat Studi al-Qur’an (PSQ) di Mesir akan membuka “Warung Teologi” yang dilaksanakan setiap malam Senin bakda isya. Kajian Ilmu Kalam ini akan diselenggarakan di Sekretariat BQM Jl. Zar’ Nawee, No. 6, Lt. 3 di kawasan Darb El-Ahmar Darrasah, Kairo. “Warung Teologi” ini diadakan guna memperdalam pengetahuan tentang ilmu Tauhid yang merupakan asas keberagamaan, serta sebagai usaha membentengi dari keberakidahan yang menyeleweng, yang telah mulai meluas dan menggerogoti keyakinan banyak umat Islam.

“Ilmu kalam memiliki posisi yang agung dalam keilmuan Islam. Karena ia membahas tentang sifat Zat Yang Mencipta dan Menguasai segalanya, seperti kata Imam Ghazali, Ilmu Kalam adalah induk dari semua keilmuan Islam,” tutur Dewan Syuro BQM, Kiai Nashrullah, atau yang akrab disapa sebagai “Cak Nashr”.

Terkait diselenggarakannya “Warung Teologi”, Kang Amrol Musyrifin, ketua Tanfiziah BQM mengungkapkan, “Jagongan ini merupakan proses pewarasan nalar. Jadi, pentingnya sudah dharuri, tidak bisa ditawar lagi. Kalau saya pribadi, berharap kegiatan ini bisa menjadi ajang konfirmasi dari apa yang sudah didapat dari masyayikh maupun kitab-kitab yang sudah dikaji, terutama kitab-kitab klasik. Karena sebagaimana yang kita ketahui bahwa akidah atau teologi, bukanlah makanan ringan yang sekali dua kali kunyah, selesai. Untuk mencernanya, butuh proses timbal balik konfirmasi yang tidak sederhana. Nah, saya berharap, warung ini bisa menyuguhkan proses tersebut dengan baik dan benar.”

Ustaz Nasruddin, salah satu yang akan menjadi pramusaji di “Warung Teologi” ini juga menyatakan, “Saya sangat gembira atas diadakannya ‘Warung Teologi’. Karena memang sangat diperlukan oleh mahasiswa saat ini. Juga sebagai wadah yang menarik dan penuh manfaat. Karena, di majelis ini kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Ada mahasiswa yang hanya sering disibukkan dengan ngaji, ada yang sibuk dengan dunia luar, ada yang memang bidangnya di diskusi, dan lain sebagainya. Karenanya, ini menjadi kesempatan dan momen indah untuk saling bertukar pikiran dan informasi sesama mahasiswa.” (nhd)

Bagi Anda yang berminat turut serta dalam jamuan “Warung Teologi”, silakan hubungi kontak person berikut ini:

+20 109 310 6006 (Muhammad Nuchid)

+20 109 305 4596 (Amrol Musyrifin)