Ansor dan Rasisme Kaum Quraisy

Tidak benar jika ada yang berkata bahwa Ansor atau kebanyakan wong NU membenci Arab. Ansor dan NU sering ndlodok dan jahil sama orang Arab, termasuk kepada keturunan Nabi, hanya karena mereka rasis berlebihan. Karena mentang-mentang ngarap. Bukan lantaran benci.  Terkadang, orang-orang Arab memang keterlaluan. Tidak jarang mereka menggunakan ayat-ayat Alquran untuk mendukung kerasisannya. Hal ini […]

Read More Ansor dan Rasisme Kaum Quraisy

Peneguk Senja Pertama

Saya dikagetkan dengan seorang kiai berblangkon ini. Tiba-tiba saja Kiai Akrom Sholihin memosting foto bareng “Labirin Tanpa Jalan Keluar” dan “Seteguk Senja untuk Pendahaga Agama” di akun Facebooknya.  Tentu saja kaget, sebab jadwal terbit “Seteguk Senja” masih hari Senin besok. Rupanya, kiai NU yang tidak terlalu NU karena tidak doyan rokok ini, tidak sabar menunggu […]

Read More Peneguk Senja Pertama

Keikhalasan Penuh Pamrih

Penginku enggak peduli apakah orang akan membeli bukuku atau tidak. Apakah orang akan membaca bukuku atau tidak. Seperti yang beberapa kali kukatakan saat mengisi workshop maupun kelas menulis, “Menulislah karena Allah. Jangan menulis untuk penerbit. Jangan menulis untuk orang lain. Bahkan, jangan menulis untuk dirimu sendiri. Sehingga, apabila tulisanmu ditolak penerbit, atau diterbitkan tetapi tidak […]

Read More Keikhalasan Penuh Pamrih

Rina Nose dan Labirin

Permasalahan jilbab kembali heboh, lantaran Rina Nose melepas kembali jilbabnya. Ia dituduh sebagai orang yang “gagal hijrah” atau tidak istikamah dalam bertobat. Banyak sekali yang marah dengan sikapnya. Padahal “Ria Bali” dan “Mahasiswa UI” yang lebih parah dari Rina, tidak sedikit pun membuat mereka marah. Justru mereka menanggapinya dengan sangat antusias sembari menelan ludah. Tentang […]

Read More Rina Nose dan Labirin

Khilafah Bukanlah Solusi

Semua umat Islam sepakat (kecuali yang tidak) bahwa empat khulafaurrasyidin adalah manusia-manusia yang paling mulia setelah Kanjeng Nabi. Kemuliaan mereka disebabkan karena kedekatan pada Sang Pencipta, serta kualitas keimanan yang paripurna. Bukan karena menerapkan khilafah dalam bernegara.  Maka, jangan serta merta Anda berkata, “Khilafah adalah solusi.” Solusi sirahe njenengan! Di masa itu, bukankah kerap terjadi […]

Read More Khilafah Bukanlah Solusi

Senja di Bulan November

Aku memang penghina, tetapi bukan pembenci. Ada yang kuhina karena memang aku membencinya. Ada yang tidak kubenci, tetapi aku selalu menghinanya. Seperti yang pernah kulakukan padamu saat malam mempertemukan kita di bawah pancaran sinar rembulan. Ketika itu aku berkata, “Suamimu tidak lebih indah dari rembulan, bukan?”  Harusnya kautahu, Sayang. Itu bukan ujaran kebencian. Karena saat […]

Read More Senja di Bulan November

Mari Meneguk Senja

“Seteguk Senja” walau hanya seteguk, mudah-mudahan mampu melepas dahaga yang kauderita selama ini. Saya pun memperjuangkannya dengan demikian ngoyoh. Saya harus menerobos dinding kegelapan di setiap malam, dinding embun di setiap pagi, dan dinding api di siang hari. Hingga datang waktu senja, saya menyelaminya, memilah-milah senja mana saja yang bisa saya suguhkan untuk kalian. Senja […]

Read More Mari Meneguk Senja

Gereja Dijagain, Pengajian Dibubarin, Dangdutan Dijogetin

Gereja sudah jelas kekristenannya. Baik orang Kristen maupun non-Kristen tidak akan tertipu. Oleh negara, dilindungi. Oleh Islam, dilindungi. Mengebomnya adalah kebiadaban. Menjaganya, adalah kebaikan.  Masjid sudah jelas keislamannya. Baik orang Islam maupun non-Islam tidak akan tertipu. Oleh negara, dilindungi. Tetapi, negara dan kemanusiaan tidak menghendaki perpecahan. Bukan karena masjidnya atau pengajiannya, namun lantaran kepentingan yang […]

Read More Gereja Dijagain, Pengajian Dibubarin, Dangdutan Dijogetin

Ekspektasi dan Realitas

Ekspektasi Tuhan dan realitas yang terjadi di alam raya, atau apa yang disebut sebagai takdir, maka itulah yang terjadi.  Tetapi, manusia hanyalah khayalan. Dari sisi lahiriah, memang ia berkeinginan. Namun pada hakikatnya, keinginannya pun dikendalikan. Apalagi realisasi. Dari dulu juga begitu. Maka, tidak ada yang aneh jika Anda berekspektasi berjalan ke ATM, mengambil sejumlah uang; […]

Read More Ekspektasi dan Realitas

Wah, Sudah, dan Baru

Kali pertama saya menulis buku, adalah di tahun 2015. (Tepat saat kita sama-sama mengungkapkan cinta, Sayang). Ketika itu, saya merasa, menulis buku ternyata mudah. Dalam tiga bulan saja, bisa membuat satu buku. Berarti, setahun bisa sampai empat buku. Ternyata, tidak juga begitu. Bulan berikutnya setelah buku pertama, saya memang menulis. Tetapi, selalu berhenti di tengah […]

Read More Wah, Sudah, dan Baru