Arsip Kategori: Nuhidiyah.News

Bayt al-Qur’an Mesir Gelar “Warung Teologi”

NUHIDIYAH.NEWS, KAIRO — Mulai bulan Juli 2017, para mahasiswa alumni Bayt al-Qur’an (BQ)-Pusat Studi al-Qur’an (PSQ) di Mesir akan membuka “Warung Teologi” yang dilaksanakan setiap malam Senin bakda isya. Kajian Ilmu Kalam ini akan diselenggarakan di Sekretariat BQM Jl. Zar’ Nawee, No. 6, Lt. 3 di kawasan Darb El-Ahmar Darrasah, Kairo. “Warung Teologi” ini diadakan guna memperdalam pengetahuan tentang ilmu Tauhid yang merupakan asas keberagamaan, serta sebagai usaha membentengi dari keberakidahan yang menyeleweng, yang telah mulai meluas dan menggerogoti keyakinan banyak umat Islam.

“Ilmu kalam memiliki posisi yang agung dalam keilmuan Islam. Karena ia membahas tentang sifat Zat Yang Mencipta dan Menguasai segalanya, seperti kata Imam Ghazali, Ilmu Kalam adalah induk dari semua keilmuan Islam,” tutur Dewan Syuro BQM, Kiai Nashrullah, atau yang akrab disapa sebagai “Cak Nashr”.

Terkait diselenggarakannya “Warung Teologi”, Kang Amrol Musyrifin, ketua Tanfiziah BQM mengungkapkan, “Jagongan ini merupakan proses pewarasan nalar. Jadi, pentingnya sudah dharuri, tidak bisa ditawar lagi. Kalau saya pribadi, berharap kegiatan ini bisa menjadi ajang konfirmasi dari apa yang sudah didapat dari masyayikh maupun kitab-kitab yang sudah dikaji, terutama kitab-kitab klasik. Karena sebagaimana yang kita ketahui bahwa akidah atau teologi, bukanlah makanan ringan yang sekali dua kali kunyah, selesai. Untuk mencernanya, butuh proses timbal balik konfirmasi yang tidak sederhana. Nah, saya berharap, warung ini bisa menyuguhkan proses tersebut dengan baik dan benar.”

Ustaz Nasruddin, salah satu yang akan menjadi pramusaji di “Warung Teologi” ini juga menyatakan, “Saya sangat gembira atas diadakannya ‘Warung Teologi’. Karena memang sangat diperlukan oleh mahasiswa saat ini. Juga sebagai wadah yang menarik dan penuh manfaat. Karena, di majelis ini kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Ada mahasiswa yang hanya sering disibukkan dengan ngaji, ada yang sibuk dengan dunia luar, ada yang memang bidangnya di diskusi, dan lain sebagainya. Karenanya, ini menjadi kesempatan dan momen indah untuk saling bertukar pikiran dan informasi sesama mahasiswa.” (nhd)

Bagi Anda yang berminat turut serta dalam jamuan “Warung Teologi”, silakan hubungi kontak person berikut ini:

+20 109 310 6006 (Muhammad Nuchid)

+20 109 305 4596 (Amrol Musyrifin)

Prof. Dr. K.H. M. Quraish Shihab Nyambangi Santri-Santri BQM

MQS BQM

NUHIDIYAH.NEWS, KAIRO – Usai menghadiri muktamar pada Kamis dan Jumat (27-28/4/2017), esok harinya, Sabtu (29/4) Prof. Dr. K.H. M. Quraish Shihab menyempatkan diri menemui para santri Bayt al-Quran Mesir, alumni Bayt al-Quran-Pusat Studi al-Quran Jakarta yang melanjutkan studi di Mesir.

Pak Quraish—demikian sapaan akrabnya—mengundang para santri untuk hadir ke Hotel Fairmont Kairo. Lumrahnya “bapak” yang menyambangi “anak”, perjumpaan itu terasa demikian teduh nan hangat. Tiga puluh lima menit pertama, ruangan itu penuh dengan canda dan tawa. Cendekiawan muslim yang populer dengan tulisan-tulisan serta kajian-kajian serius itu bercerita tentang peristiwa-peristiwa jenaka masa-masa saat ia di Mesir dengan penuh humor. Hampir tanpa jeda para santri dibuatnya terpingkal-pingkal.

Menit-menit selanjutnya, Pak Quraish bertanya tentang keluhan-keluhan santrinya. Dan setelah hampir satu jam, barulah beliau mulai berbicara hal-hal yang serius.

“Al-Azhar itu wasatiah. Kita harus menghormati semua pendapat. Walaupun, pendapat itu tidak dapat disetujui. Wong Tuhan saja memberi kebebasan. Fa Man Syāa Fal Yu’min. Wa Man Syā’a Fal Yakfur. Siapa pun yang mengucapkan dua kalimat syahadat, maka dia muslim, meskipun tidak salat. Saya ditanya tentang ISIS. Saya menjawab, ISIS muslim, tetapi dia muslim yang durhaka,” tutur Pak Quraish.

Direktur Pusat Studi al-Quran (PSQ) itu juga memaparkan bahwa di Pusat Studi al-Quran, semua pendapat kita terima. Tapi, kita punya pendapat yang kita anut. Pendapat yang kita anut itu adalah pendapat Ahlussunnah wal Jamaah. Tetapi kita tidak kafirkan Wahabi, walaupun kita tidak setuju. Kita tidak kafirkan Syiah, walaupun kita tidak setuju.

Wasatiah adalah keberagamaan yang paling sulit. Anda yang ingin menganut dan mengamalkan paham ini, ada dua yang harus sangat diperhatikan, dan itu yang sangat menyulitkan. Yang pertama adalah ilmu. Dan yang kedua adalah kemampuan mengendalikan emosi.

Pak Quraish memberikan sebuah ilustrasi. “Jika ada sejumlah orang, dan Anda mau mencari siapa yang berada di tengah, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah mencari tahu berapa orang yang ada di sana, berapa yang bukan orang, dan berapa bayangannya. Anda harus tahu persis, itu orang yang harus dihitung, atau itu bayangannya.”

“Kenapa di mana-mana ada orang ekstrem?” lanjutnya dengan pertanyaan retorik. “Karena ilmunya kurang. Boleh jadi dia hanya mengira ada lima orang. Sehingga ia menunjuk tiga lah yang di tengah. Tapi kalau tujuh orang? Sudah salah jika tiga dikatakan yang di tengah. Karena itu Anda harus tahu.”

Pakar tafsir kebanggaan Indonesia tersebut mengatakan bahwa penyebab utama kekerasan adalah karena keterbatasan ilmu. “Dia pikir hanya ini pendapat. Dia hanya tahu yang ini. Padahal yang ini dan yang itu sama. Hanya redaksinya yang berbeda.”

“Saat ini banyak orang yang tidak memiliki keduanya. Tidak punya ilmu. Emosi semangatnya lebih hebat dari Nabi saw. Nabi dulu juga begitu semangatnya, tapi kemudian ditegur oleh Tuhan, La’allaka Bākhi’un Nafsaka An Lā Yakūnū Mu’minīn.”

“Didiklah diri Anda untuk paham, dan kendalikan emosi,” tegasnya lagi.

Nasihat lainnya yang diberikan Pak Quraish pada para mahasiswa al-Azhar itu adalah, bahwa kita sudah tidak bisa lagi berpegang sepenuhnya dengan pendapat lama. Kita akan ketinggalan. Ada hal-hal baru yang perlu kita lihat.

Riwayat selain Alquran, hampir semuanya bisa diragukan kebenarannya. Orang-orang memercayai bahwa Hadis Mutawatir dijamin kebenarannya. Tapi, Syekh Muhammad Abduh berkata, “Suatu berita yang menyenangkan, memiliki potensi banyak yang menceritakan. Sehingga, jika cerita menyenangkan itu diceritakan oleh banyak orang tetapi bohong, maka tidak harus kita menerimanya.” Dalam hal ini, Muhammad Abduh memberi contoh Hadis Mutawatir tentang al-Kautsar, bahwa ia adalah telaga di surga.

Semua riwayat dapat diragukan, kecuali Alquran. Karena Alquran selain mutawatir, ia juga dijaga oleh Allah swt. dan dijamin kemurniannya.

“Apakah semua dalam Bukhari itu benar?” Kembali Pak Quraish bertanya dengan pertanyaan retorik. “ Bahkan Imam Muslim memiliki kritik terhadap sahih Bukhari. Ada orang-orang yang dipakai oleh Imam Bukhari, tapi dianggap daif oleh Imam Muslim.”

Belajar. Berusaha objektif. Carilah pandangan yang bisa mempersatukan.

Sudah tidak bisa lagi Anda hidup dengan pemikiran-pemikiran masa lalu. Jangan lagi berbicara soal mayoritas dan minoritas. Karena mayoritas dan minoritas cenderung membeda-bedakan. Padahal kita semua sama dalam berkewarganegaraan.

“Semua bisa salah, semua bisa benar. Ada yang benar sebagian, sebagiannya salah. Bisa juga yang berbeda-beda itu benar semua. Tuhan tidak bertanya lima tambah lima berapa. Tapi, Tuhan bertanya sepuluh itu berapa tambah berapa,” pungkasnya. (tw/hd)