Arsip Kategori: Lintasan Pena

Pernikahan Bukanlah Pembuktian Cinta

Entah siapa yang kali pertama memrovokasi, dosanya besar sekali pasti. Ada yang bilang, bukti cinta adalah pernikahan. Kalau cowok tidak berani ngelamar ke orangtua si cewek, pasti si cowoknya cuma main-main doang. Tidak betulan cinta.

Bukan apa-apa. Pacar saya akhir-akhir ini minta nikah mulu. Bercandanya juga sudah tidak lucu. Lah, kan saya masih anak sekolah ya, baru semester dua. Di luar negeri pula. (Maaf, kata-kata ‘luar negeri’ dengan berat hati harus saya sertakan. Ini terpaksa, karena masih berhubungan dengan konteks tulisan. Sekaligus pamer, sih). Terus nikahnya macam mana? Nikah online? Terus begituannya gimana? Online juga? Anaknya? Download?

Cinta itu sesuatu, dan pernikahan itu sesuatu yang lain. Sama sekali berbeda. Banyak sekali orang yang saling mencinta, tapi tidak menikah. Ada yang sudah menjadi sepasang suami istri, tapi tidak saling mencintai.

Ini harus saya katakan. Karena pasti banyak sekali laki-laki yang mengalami penderitaan, lantaran cintanya dianggap palsu oleh kekasihnya.

Maka, siapapun Anda, apalagi yang sudah menikah, berhentilah mengompori gadis-gadis untuk merendahkan martabatnya, mengemis-ngemis minta dinikah. Dan kita sebagai laki-laki, selain harus menjaga diri dari perbuatan yang melanggar norma-norma, jangan kemudian menurut begitu saja, bak kerbau yang dicocok hidungnya. Hanya bermodal tidak punya malu, lalu menggondol anak orang. Mari kita tunaikan dengan baik segala persiapan, baru kemudian menuju gerbang pernikahan, agar tidak terlalu banyak sampah manusia yang semakin menurun kualitasnya.

Pernikahan itu bukan main-main loh, sayang. Suami wajib menafkahi istrinya lahir batin. Lah, kalau yang rokok saja masih njoin, koreknya dapet minjem nggak dibalikin, lalu menjalin pernikahan, LDR pula … Nafkah lahir tidak terpenuhi, nafkah batin hanya bisa lewat online. Kalau kuota habis, gimana?

Pernikahan bukanlah bukti dari cinta. Kamu tahu, mengapa dalam Islam ada poligami? Karena, ketika itu, ada orang yang hendak menikahi perempuan yatim yang banyak hartanya. Ia tidak cinta. Ia hanya ingin menikahi untuk bisa mendapat hartanya. Lalu turunlah ayat tentang poligami (poligini), “Maka jika kamu khawatir tidak bisa berlaku adil pada wanita-wanita yatim, (karena kamu hanya mengharapkan harta mereka, dan bukan karena mencintai mereka, maka jangan nikahi mereka) Menikahlah saja dengan apa (yakni wanita) yang kamu cintai, dua, tiga, atau empat. Dan kalau kamu menduga tidak mampu berbuat adil (jika berpoligami) maka menikahlah dengan seorang wanita saja.” (Q.S. Al-Nisā’: 3)

Tapi sebaiknya, kita tidak perlu bermain dalil. Karena sejatinya, dalil hanyalah karet yang bisa kita tarik ulur ke mana saja kita mau. Dan cinta tidak butuh dalil. Kecuali cinta-cinta karet. Sana-sini lengket.

Gak Mondok Gak Keren

Sejak kali pertama jargon itu beredar di media, saya sudah tidak menyukainya. Saya lebih suka seandainya ada ungkapan “Gak Montok Gak Semok”.

Menurut saya, mondok itu bukan buat keren-kerenan. Dan untuk menjadi keren, tidak harus mondok. Juga, tidak semua–jika enggan berkata tidak banyak–orang mondok yang keren.

Kita tidak akan memperdebatkan definisi keren dalam tulisan singkat ini. Sudah gamblang, dan kita juga telah sama-sama tahu, bahwa apa yang dimaksud dengan “keren” dalam “Gak Mondok Gak Keren” bukanlah keren yang berkonotasi pada seseorang yang menenggerkan aksesoris mahal pada tubuhnya. Karena santri yang betulan santri, seringkali rambutnya malah acak-acakan, tanpa minyak rambut, tanpa tersisir, langsung dibungkus songkok hitam yang telah menjingga oleh senja. Baju kokoh yang berbintik-bintik hitam lantaran bekas wudu, yang hilang beberapa beniknya, atau diganti dengan warna yang berbeda-beda. Memakai sarung dan membiarkan apa yang berada di dalamnya terlantung-lantung. Sendalnya jepit, sisihan, kadang sama-sama kanan, itu pun hasil gasapan.

Tentu bukan itu yang dimaksud dengan “keren”. “Keren”-nya santri adalah pandainya membaca kitab gundul, memaknainya dengan utawi iki iku, hafal ribuan bait nazam dan syair, atau kelihaiannya melantunkan ayat-ayat suci. 

Saya tidak suka dengan ungkapan “Gak Mondok Gak Keren”, karena telah beredar demikian banyak produk pondok yang ternyata tidak keren, dan yang tidak pernah mondok justru tidak kalah keren. Parahnya, yang pernah mondok-mondok itu, kerap nyinyir pada mereka yang tidak pernah mondok. Jika ada kiai yang bukan berlatar belakang pondok, seolah itu merupakan salah satu pertanda kiamat besar yang akan segera terjadi. Padahal, yang nyinyir itu sendiri nggak bisa baca kitab gundul, nggak tau i’rab setiap kata, tidak hafal nazam dan syair, dan baca Alquran pun tidak keruan tajwidnya.

Entah sejak kapan masyarakat seolah membuat peraturan: “Untuk menjadi kiai, harus pernah mondok sekian tahun.” Padahal yang disebut-sebut oleh para ulama dalam kitab-kitab klasik, itu belajar, bukan mondok. Belajar tanpa mondok itu lebih mulia ketimbang mondok tanpa belajar. Dari sekian keterangan yang ada dalam ayat Alquran maupun Kadis, yang oleh Allah ditinggikan derajatnya itu, orang yang berilmu, bukan orang yang lulusan pondok. Yang boleh ditanya tentang agama dan mengajarkannya, itu yang berilmu, bukan yang alumni pondok. Yang menjadi pewaris nabi itu yang berilmu, bukan yang jebolan pondok. Al-‘Ilmu Syai’, wal Mondok Syai’un Akhar.

Kata mereka, menjadi ustad dan kiai di Indonesia gampang. Gampang apanya? Buktinya Anda tidak bisa. Lalu tiba-tiba, melalui lubang sempit bernama “media sosial”, Anda memenuhi mulut dengan aneka hujatan dan umpatan.

Kalau memang jadi ustad gampang, ya Anda dadio ustad. Dalam perustatan, nyatanya malah Anda kalah jauh dari yang Anda katakan sebagai “Ustad selebritis”, dan tidak pernah mondok itu.

Seburuk-buruk mereka, yang tidak pernah mondok itu, mereka berani loh menyuarakan kebenaran, meskipun kebenaran yang disuarakan terkadang justru kesalahan. Dan itu salah Anda. Katanya jadi ustad mudah, tapi Anda tidak jadi. 

Sejak kali pertama jargon “Gak Mondok Gak Keren” itu beredar di media, saya sudah tidak menyukainya. Saya lebih suka seandainya ada ungkapan “Gak Montok Gak Semok”.

Eta terangkanlah …

Wali dan Ulama

Nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad, dianugerahi berbagai mukjizat berupa kejadian-kejadian yang nulayani adat. Sebab, masyarakat ketika itu sulit diajak untuk ngilmiah. Maka Nabi Isa harus repot-repot membuat mainan burung-burungan dari tanah liat yang kemudian mampu diterbangkan, Nabi Musa harus repot-repot adu sulap dengan para penyihirnya Firaun. Dan lain sebagainya. 

Pada mula-mula berdakwah, Nabi Muhammad juga pernah menggunakan kesaktian yang serupa. Konon, pernah sampai membelah bulan. (Lihat film “Bulan Terbelah di Langit Amerika”. Tapi sepertinya tidak ada hubungannya, sih. Lihat surah al-Qamar ayat pertama saja) 

Tapi masyarakat ketika itu sudah mulai kritis. Sudah bukan saatnya lagi disuguhi mukjizat yang irasional seperti itu. Maka dianugerahkanlah Nabi Muhammad dengan mukjizat yang diyakini oleh para ulama dan sebagian besar umat Islam sebagai mukjizat teragung, yaitu Alquran.

Alquran adalah kitab suci yang sangat ilmiah. Dalam ayat-ayatnya, manusia sering diajak untuk berpikir, merenung, dan piknik untuk mengamati alam raya. Tatabahasanya sangat indah, yang tidak akan pernah tertandingi oleh sastrawan manapun. Masyarakatnya pun geleng-geleng dan turut mempelajari. Yang ingkar tetap ingkar bukan karena tidak terpukau. Tapi semua itu lantaran telah tertutup hatinya oleh kekafiran, atau hasud yang telah menggerogoti akal sehatnya.

Ulama Indonesia, saat masyarakatnya masih gemar dengan klenik, mereka pun menunjukkan karamahnya. Seperti berjalan di atas air, atau ke Mekkah melalui galian tanah. Tapi saat ini, yang semacam itu agaknya sudah tiada lagi dibutuhkan.

Masyarakat Indonesia saat ini sudah lumayan cerdas. Maka seorang kiai tidak perlu lagi wiridan terlalu lama, atau puasa setiap hari, lalu menyuruh muridnya untuk melakukan hal serupa, agar kemudian menjadi wali dapat karamah, lalu mengenyampingkan ngaji. Kiai saat ini tidak usah lagi mempelajari ilmu kebal santet, sebagaimana dulu ketika ada orangtua yang ingin memondokkan anaknya, dites dulu, kiainya kebal santet atau tidak. Selama kiai tidak neko-neko, tidak ngintip santri putrinya mandi, atau melakukan kejahatan kelamin pada santri, atau melakukan percakapan mesum melalui media sosial, atau paling bukan, tidak terlalu menampakkan namanya di kancah nasional, Insyaallah aman.

Yang harus dilakukan pendidik saat ini adalah mendidik dan mengajarkan ilmu. Bukan menyuruh tirakat noto sandal atau angon wedus. Yang paling penting dan dibutuhkan zaman ini adalah ilmu.

Jika yang dididik telah berilmu, berhasil mewarisi keilmuan gurunya (yang ngalim tentu saja), atau melebihi, maka dengan otomatis dia akan menjadi wali. Karena setiap ulama pasti wali, dan yang wali belum tentu ulama. 

Kewalian ulama itu enak. Karena ulama yang wali biasanya tidak punya karamah yang aneh-aneh. Sehingga sang wali tidak perlu lagi menyembunyikan kekeramatannya.

Dihilangkan total juga sebaiknya jangan. Tapi saya yakin, wali-wali yang berkaramah masih banyak, walau tiada nampak. Menurut hemat saya, di pesantren-pesantren tidak usah lagi diajarkan hal-hal yang beraroma klenik. Mending dimbing moral dan diajarkan keilmuan sampai menjadi ulama.

Yang harusnya belajar ilmu-ilmu seperti itu adalah ormas FPI. Mereka kan gemar sekali menjuluki dirinya sebagai “Nahi Mungkar”. (Ungkapan mereka yang sangat populer adalah: NU itu bertugas Amar Makruf, sedang FPI bertugas Nahi Mungkar) Agar tidak berbuat anarkis saat berdakwah. Maka saya sarankan, seyogyanya mereka mempelajari ilmu karamah, biar bisa berdakwah dengan santun seumpama Gus Miek.

Catatan: Yang dimaksud Nahi Mungkar adalah mencegah kemungkaran. Bukan nahi dari kata dasar tahi.

Area Sensitif

Setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, pasti memiliki area sensitif, yang apabila disentuh, ia akan menggeliat, menggelinjang, dan melakukan apa saja yang tidak biasa ia lakukan.

Area sensitif seseorang hanya dapat diketahui oleh orang yang dekat dengannya, minimal mengenalnya. 

Area sensitif orang berbeda-beda. Bulu boleh sama-sama keriting, tapi aromanya tetap berbeda. Dada boleh sama-sama gemol, tapi perasaan tidaklah sama. Ada orang yang ketika dicaci maki tentang fisiknya tidak pernah marah, tapi begitu disentuh masalah ekonominya yang terpuruk, ia langsung murka. Ada yang jika disinggung soal kemiskinannya, bahkan dihina orangtuanya, tidak marah. Tapi begitu dikucilkan lantaran warna sempaknya, langsung naik darah. 

Melalui itu semua, kita dapat mengukur bagaimana kebaikan seseorang. Saat menguraikan tentang bagaimana memilih kawan, para ulama menawarkan: perhatikan tatkala mereka marah. Jika dalam kemarahannya tidak menyentuh area sensitif kita, maka dialah yang sebaiknya dijadikan sahabat.

Sahabat yang baik bukan hanya yang apabila kita utang dia tidak pernah menagih, dan apabila dibayar pura-pura lupa lalu menolaknya. Lebih daripada itu, sahabat yang baik adalah sahabat yang menjaga diri tidak menyentuh area sensitif sahabatnya.

Pesta Seks Dek Ustad

Berbicara tentang “seks” itu ada ilmunya, Dek Ustad. Apalagi jika sudah dimasukkan dalam babakan agama. Termasuk berhumor tentangnya.

Jangan Dek Ustad duga, Dek Ustad adalah orang pertama yang berbicara tentang seks dalam sudut pandang agama. Di pesantren, di pengajian kampung-kampung, malah ada yang lebih vulgar daripada ceramah Dek Ustad di Trans TV itu, dalam acara “Islam itu Indah” itu, dalam rangka “Pesta Seks” itu. Hanya saja, mereka (para kiai pesantren dan kiai kampung itu) menyampaikan dengan ilmu dan kebijaksanaan. Memiliki dasar dan kesadaran, di mana mereka berbicara, kapan mereka berbicara, bagaimana cara mereka berbicara, dan kepada siapa mereka berbicara.

Alhamdulillah Dek Ustad sudah menyadari tentang kesalahan Dek Ustad, dan sudah berani berterus terang dengan berkata, “Itu semua karena kedangkalan ilmu saya.” 

Entah apa motif Dek Ustad meminta maaf dengan berkata demikian. Mungkin atas nama “kerendahhatian”. Tapi saya lebih melihatnya sebagai “kejujuran”.

Namun, melihat kasus Dek Ustad ini, saya aturkan begitu banyak terima kasih, karena kemudian saya menjadi sadar, betapa benar apa yang dahulu Bapak saya katakan, dan apa yang Habib Ali, kiai saya, dawuhkan, saat saya memohon izin untuk mengikuti sebuah kompetisi ceramah di televisi. 

Dalam waktu yang berbeda, tempat yang berbeda, dan tentu saja orang yang berbeda – walau keduanya memiliki posisi yang sama di hati saya, berkata pada saya kalimat yang sama: “Bagaimana seandainya kamu sudah terkenal sebagai pendakwah, tapi tidak ada ilmu yang dapat kamu sampaikan kecuali kekosongan?”

Dua Kelompok Besar di Indonesia

Setelah 24 tahun, 4 bulan, dan 10 hari penelitian, akhirnya saya dapat menyimpulkan bahwa rakyat Indonesia itu terbagi dalam dua kelompok besar. Pertama, kelompok orang-orang pintar. Kedua, kelompok orang-orang saleh.

Orang-orang yang pintar adalah orang-orang yang mendukung Jokowi berikut program-programnya. Orang-orang yang saleh adalah orang-orang yang membenci Jokowi, Kaesang, Ahok, dan anak cucunya kelak. 

Saya sebenarnya berada di manzilah bainal manzilatain, yaitu golongan orang-orang yang ganteng. Tapi kata Pak Guru, itu pendapat muktazilah yang sesat, jadi saya harus memilih satu di antara dua.

Kalau disuruh memilih, tentu saya akan memilih menjadi kelompok orang-orang pintar. Karena orang pintar itu kalau masuk neraka pun, akan menikmati. Malah sangu rokok. Enak, nggak usah bawa korek. Karena korek di dunia itu mirip kayak pacar, kalau nggak ilang, dipinjem teman nggak dibalikin. Kalau orang saleh hanya saleh, itu nelangsa. Meskipun jatahnya masuk surga, mereka nggak bisa cara membuka pintunya. Harus nunggu yang pintar keluar dari neraka dulu. Kalau sudah masuk, mereka juga tidak tahu cara menikmatinya. Harus ikut kajian Rodja TV dulu. 

Anda termasuk yang mana?

Tentang Ciuman Bibir

Dalam banyak tulisan, berkali-kali saya menerakan bahwa ada perbuatan baik yang harus dipublikasi, ada perbuatan baik yang boleh dipublikasi, ada perbuatan baik yang sebaiknya tidak dipublikasi, dan ada perbuatan baik yang haram dipublikasi. 

Perbuatan baik yang haram dipublikasi antara lain adalah hubungan seks antara pasangan suami istri. Memang, dalam hubungan seks tersebut ada pahala, tapi memublikasikannya, lebih besar dosanya ketimbang pahalanya.

Banyak yang belum paham tentang hal ini. Mereka mengutuk demikian dahsyat kepada yang memosting foto salat, atau foto tubuhnya yang kerempeng karena terlalu banyak puasa, atau foto puzzle-puzzle tasbih yang pretel berserakan karena seringnya dipakai wiridan, atau foto berlatar belakang kakbah, atau yang mengumumkan sedekahnya dalam pembangunan masjid-masjid dan santunan yatim piatu, tapi malah memberi tepuk tangan pada pasangan yang memamerkan kemesraan bukan pada tempatnya. 

Hal ini bukan saja dapat menyakiti mereka yang masih jomblo, (Uhuks, sorri, Bro!) tapi juga terkecam dalam agama lantaran dapat mengundang nafsu birahi.  

Yang saya maksud hubungan seks bukan hanya perilaku bersebadan yang itu, tapi juga dalam pemanasannya yang antara lain adalah ciuman bibir. 

Oh, Tuhan… Jangan siksa hamba-hamba-Mu yang tidak mengerti tentang hal ini. Barangkali mereka menganggap semua itu kebaikan, dan berlipat ganda kebaikannya jika dipublikasikan, karena boleh jadi ia telah dan hanya belajar Hadis tentang Man Sanna Sunnatan Hasanatan atau Man Sanna In Corporesano.

Ciuman bibir itu sebaiknya, maksud saya seharusnya… mmm, maksud saya, harus. Harus tidak dilakukan di tempat umum, secara langsung maupun melalui media sosial. Bukan hanya antara pasangan suami istri, apalagi pacar. Tapi juga ciuman persahabatan yang mulai marak di kalangan gadis-gadis masa kini, ciuman ibu kepada anaknya, kakak pada adiknya, apalagi anak perempuan kepada ayahnya seperti yang belum lama ini ditunaikan oleh pemopuler lagu “Sambalado” itu. Terasa pedas. Terasa panas.

Jika hal ini terus dibiarkan, lama-lama akan menjadi sebuah kewajaran. Dan kemudian tidak lagi dianggap sebagai keburukan. 

Dek, ketahuilah, sesungguhnya cinta bukanlah ajang pameran. Cinta adalah fitrah yang sakral, yang sebaiknya ditutup rapat-rapat agar dapat mengantar pada nikmat. Bukankah ketupat yang semakin rapat akan semakin nikmat?

Ngerti ora? Dasar Ndeso!