Arsip Kategori: Lintasan Pena

Perihal Maaf-Maafan di Hari Lebaran

Tidak banyak negara yang di hari raya Idul Fitri menradisikan maaf-maafan. Di Arab, katanya, dan di Mesir sebagaimana yang saya perhatikan dan saya saksikan melalui penglihatan dan pertanyaan dari beberapa masyarakatnya, tidak ada tradisi maaf-maafan di hari lebaran. Mengapa?

Orang Arab itu tinggal di tempat yang banyak pasirnya. Pasir itu mudah terkumpul, tapi juga mudah tercerai berai. Seperti saat dulu kita membangun istana dari pasir basah di pinggiran pantai, runtuh hanya oleh angin laut yang tidak begitu kencang. Atau seperti saat itu aku menulis namaku dan namamu di tepi pantai, nama kita lenyap hanya oleh ombak kecil yang membawa beberapa butir bui. Tiada mengapa, asal cinta kita tetap abadi dan kokoh walau seandainya tragedi tsunami di zaman Nuh terulang kembali. 

Tapi itulah pasir. Berbeda dengan tanah. Ia demikian kokoh dan konsisten. Tidak mudah rapuh walau berkali-kali diterpa hujan, tertiup angin kencang, atau terbakar oleh api. Saya masih sangat ingat saat saya masih kecil. Nenek dan Ibu saya pernah membuat pawon dari tanah untuk kasgeni dan masak memasak. Ia berkali-kali terkena bocor air hujan, dan setiap pagi terbakar karena digunakan menanak nasi dan air seduhan kopi. Tapi, pawon itu sampai sekarang masih ada, walau sudah mulai rapuh. Rujuklah ke belakang rumah saya jika ingin membuktikan. Mungkin ibu saya sudah lupa, tapi saya masih sangat ingat. Dari tanah pula, ia dijadikan sebagai pelindung seseroang atau keluarga dari terik matahari saat kemarau, dan guyuran hujan saat musimnya. Juga sebagai penutup hubungan suami istri dari penglihatan manusia. Tanah itu di bentuk sedemikian rupa, dengan model yang bermacam-macam, yang orang-orang menamainya genteng.

Itu sebabnya, orang Arab saat marah, meluap-luaplah amarahnya. Ngampleng, ngampleng tenan. Nyinggung perasaan sedikit saja, disiram dengan teh panas dari air mendidih yang baru saja disedukan. Tapi kemarahan itu hanya sesaat. Semenit yang lalu hampir bunuh-bunuhan, semenit kemudian sudah rangkul-rangkulan, cium-ciuman. Pernah ada bis yang menabrak taksi. Sopir taksi itu keluar dan nggedrok-nggedrok sopir bisnya. Kepalanya ditempeleng. Begitu ada yang berseru, “Shallu Alan Nabi!” Langsung baikan. 

Saya pernah suatu hari di kereta bawah tanah dalam perjalanan menuju pameran buku. Takut ketinggalan, saya buru-buru masuk, dan ternyata yang saya masuki adalah gerbong khusus wanita. Saya tidak berpegangan, karena pegangannya terlalu dekat dengan tempat duduk mereka. Akhirnya, dengan tegap saya berdiri. Entah kenapa, kuda-kuda saya tidak terlalu kuat saat itu. Sehingga, begitu kereta berjalan, saya kejlungup. Dan keterjlungupan saya menggerakkan kedua tangan saya untuk bersiap-siap menahan jatuhnya tubuh saya. Dan dilalahnya, saya terjatuh tepat di tempat duduk seorang gadis Mesir. Cantik. Kedua tangan saya tersentuh tepat pada dua kubah masjid yang menyembul di balik jilbab ketatnya. Saya disemprot habis-habisan. Dia marah-marah dan ngata-ngatain saya melakukan kejahatan seksual. Tapi sekitar lima menit kemudian, sebelum kereta berhenti di pemberhentian berikutnya, gadis Mesir yang asalnya marah, berubah jadi cinta. Itulah pasir. Terkena angin saja berubah. 

Masyarakat Indonesia, saat disakiti, terkadang tidak langsung marah. Tapi setelah itu, embernya nggak ada pungkasnya. Padahal hanya disindir sedikit saja, cerita kepada kawan-kawannya, jika dinovelkan, mungkin lebih tebal dari novel-novel Tere Liye. Terkadang hubungan mereka sekilas terlihat baik-baik saja. Tapi dendam kusumatnya melantrak sampai anak cucu. Bahkan, pernah ada dua sahabat yang masih TK sedang bermain petak umpet, didatangi ibunya dan berkata, “Tidak usah kau cari anak itu. Biarkan dia hilang. Dulu, Mbah Buyutnya pernah minjam korek buat nyumet rokok dan koreknya dihilangkan. Kayaknya sih dikantongi.” Bayangkan! Mbah buyut yang melakukan, dampaknya sampai tujuh turunan, bahkan lebih. Demikianlah tanah.

Inilah yang menjadi sebab, kenapa di Arab tidak ada tradisi maaf-maafan. Karena tidak banyak dari mereka yang menyimpan dendam. Saat marah, mereka menuntaskan kemarahannya ketika itu juga. Tapi tidak di Indonesia. Meminta maaf adalah tanda kelemahan. Meminta maaf menjadi alamat bahwa dia yang salah. 

Kemudian datang para Wali Songo. Awalnya mereka kebingungan menghadapi orang-orang Indonesia yang kehidupannya begitu rukun. Tapi saat marah, tidak mau ada pihak yang memulai minta maaf. Kemudian, Idul Fitri inilah yang dijadikan ajang saling memaafkan, dengan menjelaskan bahwa di bulan Ramadan, Allah harusnya mengampuni semua dosa kita. Tapi Allah enggan, jika kalian masih memendam dendam pada sesama. Memintalah maaf walau tidak merasa bersalah, dan maafkanlah siapa saja yang bersalah, niscaya Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahan kalian, sehingga kalian bisa kembali pada kesucian. Kembali pada fitrah. Seumpama bayi yang baru saja dilahirkan. 

Tapi orang Indonesia tetap gengsi, sehingga mereka hanya menyarankan, Ya sudah, tidak perlu ada kata-kata permintaan maaf. Katakan saja pada saudaramu, ‘Ngaturaken sedoyo lepat’. Jika masih enggan atau malu juga, memintalah maaf dengan isyarat. Buatlah makanan yang terbuat dari beras yang dibungkus dengan anyaman pucuk daun kelapa dalam bentuk segi empat atau lainnya (seperti Jekikrek atau Jekicen), lalu dinanak. Kemudian dimakan bersama-sama. Makanan ini dinamai “kupat”, yang berarti “ngaku lepat”. Inilah awal mula adanya hari raya kupat, yang tidak ada kecuali di Indonesia. Di Malaysia dan di sebagian daerah Tailand mulai ada. Tapi semua itu hanya plagiarisme yang tidak pernah mereka sebutkan sumber rujukannya.

Ketika masyarakat mulai mampu saling memaafkan, selain tetap menradisikan kupat dan pengakuan lepat, ditambah dengan, “Pinten-pinten kesalahan kulo, nyuwun agungipun pangaksami.” Atau jika terlalu njelimet, cukup dengan “Lahir batin”. 

Itulah sekelumit tentang filosofi pasir dan tanah. Dan Indonesia ini bukan hanya tanah. Ia disebut-sebut sebagai tanah air. Jika hanya tanah, bisa saja dia ambyar. Tapi kalau sudah dicampur dengan air, ia menjadi lebih kuat.

Ada cerita menarik. Yang cerita ini tidak akan Anda temukan di buku mana pun.

Saat Tuhan menciptakan Adam, Dia menyuruh Izrail untuk mengambil tanah dari 59 negara. Setelah jadi manusia, para penghuni langit senang sekali menggelitiki Adam dengan memasukkan bulu mentok ke hidungnya. Hal ini menjadikan Adam bersin. Dan setiap bersin, kepala Adam copot. Digelitiki lagi, bersin lagi, lalu tangannya copot. Dan begitu seterusnya. Lalu Tuhan memerintahkan Izrail untuk mengambil tanah-air di Indonesia, ditempelkan pada bagian-bagian yang rawan copot. 

Kemudian para penghuni langit kembali menggelitiki. Dan ketika Adam bersin, kepalanya tidak lagi copot, tangannya juga tidak lagi copot. Sekonyong-konyong, Adam berseru, “Alhamdulillaaah.” Dan penduduk langit menjawab dengan berdoa, “Yarhamukallah.” Adam kembali mendoakan, “Yahdikumullah wa Yushlihu Balakum.” Itu sebabnya, saat seseorang bersin, disunnahkan membaca “Alhamdulillah”, yang mendengar mendoakan “Yarhamukallah”, lalu yang bersin kembali mendoakan “Yahdikumullah wa Yushlihu Balakum”.

Tanah yang diambil dari Indonesia ini adalah tanah yang ke enam puluh, yang oleh orang Indonesia disebut dengan “siti”, berasal dari bahasa Arab “Sittīn”/enam puluh. Makanya, kalau ada perempuan yang bernama “Siti”, pasti dia adalah perempuan yang tangguh. Itu sebabnya, dari sekian perempuan yang mendaftar sebagai pacar saya, yang nama depannya ada “Siti”-nya lah yang saya jadikan kekasih dan calon pendamping hidup saya kelak.

Dari uraian di atas, kita bisa menarik pelajaran: Jika Anda orang Indonesia yang benar-benar Indonesia, harusnya Anda bukan orang yang mudah meminta maaf, juga tidak mudah memaafkan kepada siapa saja yang menyakiti Anda. Kecuali ketika Idul Fitri tiba.

Dengan ini, saya, Muhammad Nuchid, memohon maaf kepada Anda semua, atas kesalahan-kesalahan masa lampau saya yang saya tidak sengaja, yang sengaja, maupun yang saya rencanakan dengan sangat matang. Juga pada kesalahan-kesalahan saya yang akan datang, sehingga nanti-nanti saya tidak perlu lagi meminta maaf. Sekurang-kurangnya, sampai lebaran tahun depan. Semoga Allah memanjangkan usia kita dalam keberkahan, sehingga kita bisa kembali saling memaafkan. Lahir Batin!

Qunut Panjang

Semenjak saya diminta untuk menjadi imam di sebuah masjid–Ehm–di luar negeri, saya merasa ke-NU-an saya berkurang. Karena setiap Subuh, saya jadi tidak pernah qunut. Padahal, perbedaan paling prinsip antara NU dan Muhammadiyah adalah tentang qunut Subuh. Kalau di luar puasa, biasanya habis Subuh saya langsung ngopi karo udud. Agar identitas ke-NU-an saya kembali.

Mulai pertengahan bulan Ramadan ini, saya diminta untuk membaca doa qunut, yakni pada akhir salat Witir. Saya diminta agar membaca doa qunut yang panjang. Padahal, saya tidak memiliki doa qunut lain selain doa qunut yang dahulu sering saya gunakan sebagai kesunnahan di rakaat terakhir salat Subuh.

Qunut yang panjang ternyata tidak ada patokannya. Mereka yang doa qunutnya panjang, yang berdurasi hampir satu jam (atau kalau pakai obat kuat bisa tahan sampai dua jam. Belum termasuk pemanasan), ternyata adalah kumpulan-kumpulan doa yang mereka hafal. Malah belakangan ini, lagi viral, ada pemuda Indonesia yang memiliki suara merdu, berdoa qunut yang dalam doa qunutnya mengandung unsur pulitik. Memang, sih, qunut yang mengandung unsur pulitik tidak seharam dengan yang mengandung minyak babi, tapi bukan berarti itu tidak buruk.

Saya katakan pada pengurus masjidnya, bahwa saya tidak hafal banyak doa, sehingga tidak mungkin saya qunut berlama-lama. 

Dulu, saya pernah menghafal begitu banyak doa. Sampai nyopot sandal pun saya tahu doanya. Tapi seleksi alam menyisakan hanya satu doa. Saya tinggal hafal satu doa itu. Sangat menghafalnya. Tapi saya belum pernah menggunakannya. Mudah-mudahan tahun depan doa ini mulai terpakai.

Doa tersebut adalah:

“Allāhummā Jannibnā asy-Syaithān. Wa Jannib asy-Syaithāna Mā Razaqtanā.”

Bahaya ISIS

Saya sebenarnya tidak suka dengan budaya dan idealisme isis. Saya bahkan sering mengritiknya. Sesekali menghujatnya. Tapi, dalam banyak aktivitas saya, juga para santri pada umumnya, tidak jarang turut melaksanakan (secara kaffah, sesuai syarat, rukun, dan kesunnahan) paham ini.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, isis memiliki makna terasa segar (karena embusan angin dan sebagainya). 

Dalam istilah pesantren, isis adalah sarungan tapi gak sempakan. Itu sebabnya, kaum santri tidak pernah bisa lepas dengan tradisi tersebut.

Di Mesir, orang yang memakai sarung identik dengan orang yang habis ngono’an. Tapi, tetap saja banyak mahasiswa Indonesia yang memiliki latar belakang santri, terutama NU, mengabaikannya. Bagi mereka, sarung adalah identitas santri. Yang tidak memakainya, tidak sempurna kesantriannya. Dan puncak kesantrian adalah ketika dalam sarung itu tidak ada sesuatu pun yang menghalangi embusan angin yang membelai Mā Bayna al-Surrah wa al-Rukbah.

Bahkan, di salah satu pesantren yang ada di Jawa, saat menunaikan jamaah, santri wajib mengenakan sarung. Jika ada santri yang memakai celana saat salat, akan mendapat siksa berupa pukulan penjalin di kentol. 

Mengenakan sarung saja belum cukup. Ada yang berkata, memakai sempak saat salat adalah salah satu di antara sekian penyebab tidak sahnya salat. 

Entahlah, jika memang ada kitab Fikih yang mengategorikan sempak sebagai penyebab batalnya salat, agaknya harus dikaji ulang. (Kecuali barangkali yang dimaksud memakai sempak adalah menggunakannya di kepala sebagai pengganti serban).

Karena, pada suatu malam yang belum lama ini, sesuatu yang konyol terjadi. Seseorang menahan muka merah karena malu yang teramat. Saat ia Tarawih, ia mengenakan sarung. Sementara di masjid, kipas berputar demikian kencang, berkolaborasi dengan angin malam menjelang Lailatul Kadar. Begitu anak ini rukuk, sarungnya mengepakkan sayap. Dia tidak sempakan. Dan tepat di belakangnya adalah orang Afrika Hitam. Untungnya, kata dia bercerita, saf di masjid tersebut berjarak cukup jauh. Kalau setengah langkah saja lebih maju, boleh jadi muka orang Afrika itu akan mencium lubang celengan anak ini.

Setelah salam, ada orang Mesir yang menegur, “Wallahi, jangan gunakan sarung kecuali di dalam kamar, sendirian.”

Demikianlah bahayanya isis. Wallahu A’lam.

Menabung Untuk Buku

Saya ke Mesir hanya bermodal dengkul dan keberuntungan. Tiket keberangkatan dikasih Habib. Dapat kembalian 50 dollar, saya entit buat sangu. 

Dapat satu bulan di Mesir, hape saya hilang di Terminal Ramsies sepulang dari acara Mulutan. Entah kecopetan, atau terjatuh seperti terjatuhnya aku dalam pelukanmu malam itu.

Saat itu juga, saya bertekad untuk tidak hape-hapean. Mau fokus belajar saja. 

Dua puluh jam kemudian, sejak hilangnya hape yang disertai tekad tidak hape-hapean itu, kurang dari satu jam selanjutnya saya mampu mengumpulkan uang sebanyak 900 Pound. Malam itu juga saya ke Konter Vodafon untuk membeli hape baru. 

Uang itu hasil utang. Dan agar mampu melunasinya, saya harus nyambi bekerja.

Seminggu kemudian, ada pameran buku terbesar di Mesir, atau pameran buku Islam terbesar di dunia. Saya amat sangat sakit hati. Dan saya hanya bisa gigit jari sambil menggerutu meratapi betapa kejamnya hidup ini.

Teman-teman saya mulia banget hidupnya. Tinggal ngomong, “Pa, minta duit, buat beli buku.” Dikirimlah 100, 200, 300, 400, 500 Dollar sesuai yang dikehendaki anaknya.

Sementara saya, harus terjegal dalam mencuci piring, ngepel, membuatkan minuman, dan segala jenis perbabuan lainnya di Restoran Malaysia demi menutupi utang.

Saya juga pengin beli buku. 

Akhirnya saya menabung. Uang dari minhah dan gaji menjadi babu itu saya bagi tiga. Sepertiga untuk nyicil utang. Sepertiga untuk kebutuhan hidup, seperti udud, kopi, transportasi, sabun, sampo, sikat gigi, odol, lipstik, pembalut (luka), dan lain sebagainya. Sepertiganya lagi saya masukkan dalam celengan yang sudah saya tulisi “Untuk Buku”.

Awalnya saya sempat menulisinya sebagai “Tabungan Umroh”. Dan tulisan iseng itu hampir mengubah niat saya dari ingin membeli buku menjadi ingin berangkat umrah beneran. Tapi teman sekamar saya menasihati, “Semua ada waktunya. Kita ini pelajar. Haji dan umrah ada waktunya sendiri. Setiap saya mendapat uang , saya selalu gunakan untuk membeli buku. Saya lebih memilih buku daripada pergi umrah. Buku-buku saya itu, kalau diuangkan, sudah bisa buat pergi umrah berkali-kali, bahkan haji.” Akhirnya saya tersadarkan kembali.

Sayang, tidak lama kemudian saya terpaksa berhenti kerja. Si Bos Ruslan kalah tender. Kena Yusuf, dan dia tidak mempekerjakan selain dari kalangan mahasiswa Malaysia sendiri.

Saya nganggur, dan tabungan saya tidak pernah terisi. 

Beberapa bulan kemudian saya mendapat tawaran jadi imam masjid. Saya senang sekali. Pasti gajinya besar sekali.

Tapi satu bulan kemudian saya tertampar oleh niat busuk saya. Gajinya kecil. Dan akhirnya saya tidak lagi niat bekerja. Tapi niat ibadah. Dan alhamduillah. Saya bisa mengumpulkan uang darinya. 

Sialnya. Saat uang mulai terkumpul, Pound Mesir inflasi gede-gedean. Harga buku naik dua kali lipat, bahkan lebih. 

Dan, saya rasa itu bukan sebuah alasan sebagai berhenti menabung untuk buku.

Baru saja, buku yang sudah lama saya idam-idamkan akhirnya terbeli. Tafsir al-Tabari, tahkikan Syekh Mahmud Syakir, terbitan Darus Salam.

Setelah menabung berbulan-bulan.

Buku saya memang baru segini. 

Mungkin terlihat nggak pelajar banget. Tapi itu kalau diwujudkan keringat, beeuh… bisa buat sajian buka puasa sampai lebaran.

“Yang penting beli dulu,” kata guru saya. “Kalau bisa ya dibaca. Tapi Insyaallah kalau sudah punya pasti terbaca. Paling tidak, judulnya. Karena penulis yang baik adalah yang lebih banyak membaca daripada menulis.”

Agama, Dalil, dan Badut Syar’i

Agama adalah dalil. Dalil adalah agama. Dari sekian asas-asas beragama, hampir semuanya perlu dalil, baik akli maupun nakli. Maka tidak heran, jika orang-orang beragama gemar sekali berdalil. 

Dolanan dalil. Wah… seneng banget saya. Makanya, saya itu gemes sekali kalau sampai ada dua kubu saling serang dengan senjata dalil.

Dulu, kiai-kiai partai juga sering menggunakan dalil. Yang memilih PKB bilang, “Wa Lā Taqrabā Hadzihī al-Syajarata!” Maksudnya, jangan pilih Golkar.

Yang memilih Golkar bilang, “Walā Tufsidū fi al-Ardh.” Maksudnya, jangan coblos PKB. 

Dan itu berlanjuuut sampai sekarang, dan mungkin akan selalu terus menerus hingga ratusan generasi yang akan datang. 

Dewasa ini, kita telah dihadapkan dengan sebuah pagelaran wayang manusia, dengan judul: “Pertarungan Antara Pemerintah dan Ulama”. Yang diperankan langsung oleh Jokowi dan Habib Rizieq.

Tidak ada yang menarik dari pertarungan dua manusia itu kecuali kementusisme para pembelanya.

Di salah satu status Facebooknya, Pak Kumis (karena puasa, saya tidak menyebut nama, untuk menghindari Kamm Min Shā’imin), dedengkot NU Garis Lurus (Saking lurusnya, ibarat kendaraan sampai nggak mau belok. Ono uwit ditabrak. Ono pager ditabrak. Ono rondo ditabrak. Ada jurang, malah ndlungup, alasannya, ini garis yang lurus), mengutip sebuah Hadis:

إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ يَكْذِبُونَ وَيَظْلِمُونَ، فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ، فَصَدَّقَهُمْ بِكِذْبِهِمْ، وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَلَيْسَ مِنِّي، وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ، وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ، وَيُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ، وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الْحَوْضَ 

Sesungguhnya sesudahku akan ada para penguasa, yang selalu berdusta dan berbuat zalim. Barangsiapa yang masuk kepada mereka, lalu membenarkan kebohongan mereka dan membantu mereka atas kezaliman yang mereka lakukan, maka ia bukan termasuk golonganku, aku bukan termasuk golongannya dan ia tidak akan mendatangiku di telaga. Barangsiapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka, dan tidak menolong mereka atas kezaliman yang mereka lakukan, maka ia termasuk golonganku, aku termasuk golongannya dan ia akan mendatangiku di telaga.

Maksud dari Pak Kumis, penguasa yang berdusta dan zalim itu yo Jokowi. Karena pemerintahannya dituduh sebagai rezim yang mengkriminalisasi ulama. Ulama yang dimaksud yo Habib Rizieq kui. Tok. 

Sementara nun jauh di sana. Yang diduding-duding sebagai dedengkot JIL (Jaringan Iblis Laknatullah), yang di Indonesia dianggap setengah kafir dan di Amerika dianggap kurang kafir, mengutarakan sebuah dalil ayat suci:

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ ♡ هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ

Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan suka menghina. Yang suka mencela. Yang kian kemari menyebarkan fitnah.

Yang dimaksud dengan suka bersumpah adalah mubahalah atas tuduhan chat mesum. Suka menghina dan mencela adalah menghina Jokowi dan banyak ulama yang berbeda pandangan dengannya. Menyebarkan fitnah itu ya mungkin grudak-gruduk aksi berjilid-jilid itu.

Baik dari dedengkot NU GL maupun dari dedengkot JIL, atau dari apapun dan siapapun juga, jika ada dalil digunakan sebagai alat untuk memecahkan masalah dengan perpecahan, anggap saja itu banyolan. Anggap saja mereka adalah badut syar’i.

Demikian, Wallahu A’lam.

Kotak Masuk Bercedut

Perhatian: Saya tidak merekomendasikan tulisan ini untuk Anda baca. Bacalah tulisan saya selain ini. Insyaallah ada manfaatnya. Yang ini jangan! Semenjak saya memfollow teman-teman WordPress yang tergabung dalam komunitas Obrolin, dan kemudian saya membaca blog mereka, saya seperti terseret dalam sebuah ruang dapur yang licin. Saya jadi ikutan gaya mereka dalam ngeblog: isinya curhat. Saya merasa derajat kelelakian saya mulai mengkeret. Abaikan!

***

Sejak pagi mata kanan saya bercedut-cedut tiada henti. Tidak mungkin ini tidak ada apa-apanya. Paling tidak, mungkin ini sebab semalam begadang dan tidak tidur di pagi harinya. Ini pertama kalinya saya tidak tidur pagi. Pencapaian yang luar biasa. 

Tapi, barangkali inilah yang sering disebut-sebut sebagai firasat. Pertanda. Kata orang-orang tua dulu, kalau cedutan di mata kiri itu pertanda buruk. Kalau cedutan di mata kanan itu pertanda baik. Kalau cedutan di mata kaki itu gringgingen. Kalau cedutan di ujung jari itu cantengen.

Semoga ini Tahadduts bi al-Ni’mah. Seperti dalam firman-Nya: Wa Ammā bi Ni’mati Rabbika fa Haddits. (Ceritakanlah kenikmatan yang kau peroleh dari Tuhanmu). Agar orang-orang juga turut bahagia dengan kebahagiaanmu. 

Namun demikian, saya tetap berusaha untuk tidak menceritakan kepada orang-orang dekat saya. Karena orang dekat akan ikut sedih saat kita sedih. Dan akan semakin sedih jika kita bahagia.

Memang, saya memiliki banyak teman baru di WordPress ini (tiga itu sudah terbilang banyak). Tapi saya tidak akan menganggapnya dekat. Karena kedekatan adalah kutukan. Dan jauh adalah kerinduan. Karena itulah saya menceritakan ini padamu.

Semoga ini Tahadduts bi al-Ni’mah, dan bukan pamer. Karena antara keduanya hampir tidak memiliki perbedaan. Tapi, pamer juga nggak apa-apa, sih. Wong sama kamu doang. 

Pagi tadi saya ujian. Dan sesungguhnya begadang di malam sebelum ujian adalah tarekat terburuk bagi seorang pelajar. Tapi bagaimana lagi, power saya baru keluar di malam sebelum ujian.

Sebelum berangkat, tiba-tiba henpon saya berdering. Ada WatsApp masuk dari anak KBRI. Minta dilayoutin Buletin. Saya berkali-kali di minta melayout Buletin dari berbagai komunitas Masisir (Mahasiswa Indonesia Mesir), tapi hanya KBRI yang paling realistis. Yang lain terlalu mengedepankan keikhlasan.

Tawaran melayout Buletin yang hanya dua lembar dengan upah berlembar-lembar itu saya iyakan. Dan, inilah arti cedutan itu. Menarik, kan? 

Jika tidak, masih ada arti cedutan berikutnya.

Kemudian saya pergi ke kampus. Ngantuk banget. Lemes. Serasa tubuh saya hanya terdiri dari daging dan kulit. Tanpa otot dan tulang. Klembreh. Tapi, semua itu terobati dengan arti cedutan kedua ini: soal ujiannya terjawab semua dengan sangat mudah. 

Tidak usah bertepuk tangan. Masih ada arti cedutan berikutnya yang lebih mendekati kebenaran dalam menafsirkannya.

Hari ini suhu panas Kairo mencapai 40 derajat celcius. Dan kau tahu, kan, ini bulan Ramadan. Panasnya dilipatgandakan sampai 700-an. Totalnya 28.000 derajat. Angka yang sangat fantastis. Jamaah salat saja cuma 27 derajat.

Malam ini, saya mendapat jadwal imam tarawih. Usai ujian, saya langsung pulang ke Masjid. Dan, sesampai di sana, saya dijabat demikian banyak tangan. Tangan mereka kasar. Ada amplopnya. Inilah arti cedutan itu. Saya berhasil mengumpulkan gaji dua bulan dalam satu malam. Berkat cedutan.

Tapi sesungguhnya bukan itu yang menyebabkan saya sampai bercurhat seperti kalian. Yang di atas hanyalah sebuah prolog. 

Yang saya ingin ceritakan adalah:

Ketika saya hendak mengirim hasil layout Buletin milik KBRI yang bekerja sama dengan PPMI itu, begitu membuka Email, ada kotak masuk. 

Melihat isinya, saya langsung kemringet. Mruntus sejagung-jagung. Kejang-kejang. Gringgingen. Cantengen. Mencret. Semaput. 

Rukun NU

Saya tidak tahu apa itu NKRI dan apa itu khilafah. Yang saya tahu hanya bahwa saya NU. Itu pun saya tidak begitu tahu seluk beluknya. 

Akhir-akhir ini, saya kerap menemui sebuah keluhan, “Mengapa NU berubah?” 

Tidak penting bagi saya menghiraukan keluhan macam itu. Toh yang mengeluh bukan orang NU, atau hanya NU abal-abal, yang seakan-akan satu selimut bersama yang lain, tapi dia tidak memakai celana dan menebar virus HIV. 

NU tidak berubah. Kalau pun berubah, yang berubah hanya penganutnya. Dan sejauh pengamatan saya, penganut NU sekarang, tidak terlalu berbeda dengan penganut NU ketika itu. NU-nya Mbah Hasyim dan Mbah Wahab tidaklah berbeda dengan NU-nya Kiai Said Agil Siradj dan Kiai Salahuddin Wahid. Kalau Kang Idrus Ramli, agak berbeda, sih, memang. Aneh. Mungkin karena dia kurang begitu suka dengan NKRI, dan terlihat sekali–walau tidak sebegitu benderang–mendukung gerakan khilafah. Boleh jadi juga karena NU-nya orang itu ada garisnya. Garis Lurus, katanya. Dan dia merupakan dedengkotnya.

Tapi bagi saya, selama masih menjalankan rukun NU, dia, mereka, dan kita semua, masih bisa dikategorikan NU.

Rukun Iman ada enam. Rukun Islam ada lima. Dan rukun NU ada tiga.

1. Dalam Akidah mengikuti Asy’ari atau Maturidi. Kalau ikut-ikutan Ibnu Taimiyah atau paham Wahabisme yang mengakui Tiga Tauhid (Rubūbiyah, Ulūhiyah, dan Asmā’ was Shifāt) atau turut bertauhid Mujassimah (seperti percaya bahwa Allah punya tangan, mata, kaki, wajah, dan bukan dalam pengertian majaz) maka mereka tidak termasuk NU, walaupun berpakaian hijau.

2. Dalam Fikih menganut empat mazhab: Syafi’i, Maliki, Hanafi, dan Hanbali. Ada yang berpendapat bahwa hanya boleh memilih salah satu dari empat mazhab itu. Ada yang membolehkan berpindah mazhab dalam keadaan tertentu. Ada yang memperbolehkan menggunakan semuanya. Asal tidak keluar dari empat tersebut. Jika Fikihnya langsung kepada Alquran dan Sunnah, tanpa mazhab, maka bukan termasuk NU.

3. Dalam Tasawuf menganut Imam Ghazali dan/atau Imam Junaid Albaghdadi. 

Ada yang bertanya, “Apakah merokok juga bagian dari rukun NU.”

Saya menjawab, “Tidak. Ia hanya Min Bāb Mā Lā Yatimmul Wājib illā Bihī…