Semua tulisan dari Nuhid

Penulis adalah mahasiswa di universitas al-Azhar, Kairo.

Warung Teologi (Part 2) “Kafir dan Mengafirkan”

 

Oleh: Nasruddin Babas Hasan

.

Sebagai manusia yang ditakdirkan hidup berdampingan dengan makhluk hidup lain, terkhusus antar sesama manusia, maka sudah seharusnya saling bergandengan tangan tanpa harus melukai atau menyakiti satu sama lain. Baik secara lahiriah maupun batiniah. Bertolak belakang dengan kondisi yang sedang dialami oleh masyarakat kita saat ini, banyak yang saling memberi kritik yang menyakiti, mengomentari tanpa memikirkan suasana hati. Sehingga, lahirlah masalah-masalah yang tidak diharapkan terjadi.

Fenomena melabeli  sebuah golongan atau individu dengan sebutan yang berkonotasi negatif—jika tidak ingin berkata berbahaya—masih  terasa hingga saat ini, karena siapa saja yang menempel dengan label tersebut akan merasa risih bahkan sampai ke derajat sakit hati. Kalaupun itu memang benar sudah mencukupi persyaratan sebagaimana yang telah ditetapkan oleh agama, tetap saja ada norma-norma yang harus disesuaikan agar tidak mengundang perpecahan dan merusak persaudaraan. Yaitu kata “Kafir”, sebuah kata yang digunakan untuk menunjukan identitas seseorang dalam ajaran agama. Islam memperkenalkan kata tersebut di dalam  risalahnya agar menjadi pembeda antara orang yang memeluk agama Islam dan yang tidak.

Inilah problema yang ada, fenomena yang harus dihentikan segera. Telah banyak  meretakkan rasa percaya antar sesama, merusak harmonisasi keluarga, bahkan mengancam kesatuan negara. Tidaklah berlebihan jika dikatakan demikian, karena itulah yang terjadi di lapangan, maka cepat atau lambat virus ini akan sulit dihilangkan jika tidak segera dihentikan.

Narasi di atas adalah gambaran yang menambah daftar Pekerjaan Rumah yang sudah banyak menumpuk, yang mestinya harus segera diselesaikan. Jadilah permasalahan yang kompleks dan mustahil jika akan selesai hanya mengandalkan  satu atau dua orang saja. Perlu penjelasan yang tegas, lugas, serta penyebaran yang  luas agar masyarakat mendapatkan wawasan yang benar dan jiwanya merasa puas.

.

Makna Kafir

Makna kafir (kufr) secara bahasa, berasal dari kata kafara yang berarti satara/menutupi. Sedangkan dalam sudut pandang syariat, kafir berarti mendustakan Nabi Muhammad saw. terhadap apa yang dianugerahkan Allah kepadanya. Atau membangkan sesuatu yang menjadikan seorang mukmin beriman. Atau sebutan bagi orang yang tidak memiliki iman.

Dari sana, maka kekafiran itu beragam:

  1. Orang yang menampakkan iman dan menyembunyikan kekafirannya: Munafik.
  2. Orang yang kembali pada kekafiran setelah keimanannya: Murtad.
  3. Orang yang meyakini ada dua tuhan atau lebih: Musyrik.
  4. Orang yang beragama dengan agama yang sudah di-nasakh: Yahudi dan Nasrani.
  5. Orang yang sama sekali tidak memercayai adanya Tuhan: Ateis.

.

Ulama juga membagi kafir dalam dua macam. Kafir Besar dan Kafir Kecil.

Pertama, Kafir Besar. Yaitu membangkang pada apa yang telah datang kepada Nabi Muhammad saw. yang telah diketahui dari doktrin agama, yakni yang telah ditetapkan dalam Alquran, Hadis Nabi yang mutawatir, atau yang telah disepakati oleh umat.

Dalam konteks Hadis Nabi yang mutawatir, memang wajib beriman padanya. Namun, tidaklah dihukumi kafir bagi yang menakwilkannya, seperti yang telah dilakukan oleh kelompok Muktazilah dalam memahami makna “melihat Allah di akhirat”, “kehidupan di alam kubur”, “siratalmustakim”, “ẖawdh”, “mizān”, dan lain sebagainya.

Orang yang mengingkari wujud Allah, maka dia telah kafir. “Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya, sedang dia bercakap-cakap dengannya, ‘Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?’” (Q.S. Al-Kahf: 37)

Orang yang mengingkari ke-Esaan Allah, maka dia telah kafir. “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga. Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Maha Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.”  (Q.S. Al-Māidah: 73)

Orang yang mengingkari kerasulan Nabi Muhammad saw., maka dia telah kafir. “Berkatalah orang-orang kafir, ‘Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul.’ Katakanlah, ‘Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu, dan antara orang yang mempunyai ilmu Al Kitab.’” (Q.S. Al-Ra’d: 43)

Orang yang mengingkari kitab suci, maka dia telah kafir. “Katakanlah, Tahukah kalian jika ia (Alquran, datang) dari sisi Allah dan kalian kafir padanya …” (Q.S. Al-Aẖqāf: 10)

Ayat-ayat Alquran yang membahas tentang kekafiran, “Kafir Besar” lebih sering disebut daripada “Kafir Kecil”.

Tentang Kafir Besar, oleh Alquran juga sering disebut sebagai penyelisih keimanan, seperti dalam firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.” (Q.S. Al-Baqarah: 6), “Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada zaman dahulu? Dan barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, Maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus.” (Q.S. Al-Baqarah: 108)

Kedua, Kafir Kecil. Ia juga biasa dinamai dengan Kafir Majazi, atau Kafir Amali, lantaran kekafirannya hanya sebatas pada perbuatannya, bukan keyakinannya. Seperti dalam firman-Nya, Dia menyebut orang yang tidak bersedia bersyukur, atau mengingkari nikmat, disebut sebagai kafir, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu kafir (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (Q.S. Ibrāhīm: 7), “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu kafir terhadap (nikmat)-Ku.” (Q.S. Al-Baqarah: 152)

Syariat juga menamai sebagian perbuatan dosa sebagai kekafiran, yakni Kafir Kecil. Rasulullah bersabda, “Siapa yang menyetubuhi istrinya di waktu ia haid, atau melalui duburnya, maka sungguh, ia telah kafir terhadap apa yang datang kepada Nabi Muhammad.” Sabdanya yang lain, “Siapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka dia telah kafir.”

Dalam beberapa riwayat, sering disebutkan “tidak akan masuk surga”. Hadis-hadis yang dimulai dengan “tidak akan masuk surga” itu, oleh sementara ulama, dikategorikan sebagai kekafiran kecil. Seperti dalam sabdanya, “Tidak akan masuk surga orang yang mengadu domba.” Sabdanya yang lain, “Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturrahim.” Dan lain sebagainya yang senada dengan itu.

Mengafirkan (ikfār atau takfīr)

Fenomena mengafirkan di masyarakat; sejarah dan perkembangannya, sebagaimana yang telah tersebut di atas. Fenomena tentang mengafirkan sudah terjadi sejak lama. Istilah kafir sudah tercantum di dalam Alquran sebagaimana ayat-ayat yang terhidang di atas,  dan sudah banyak juga ulama yang membicarakan hal ini, merujuk pada Alquran dan Hadis Rasulullah.

Pada zaman Nabi Muhammad  Saw. kata kafir sudah menjadi hal yang lumrah,  bukan saja disematkan secara terang-terangan di dalam Alquran seperti di surat al-Kafirun, bahkan seringkali sahabat Nabi juga menyebut orang-orang Quraisy yang ingkar dengan sebutan Kafir Quraisy.

Jadi, fungsi kata kafir dahulu sering digunakan untuk membedakan kaum  muslim dan kaum kafir. Seiring berjalannya waktu, segala macam bentuk pemahaman dalam memahami teks agama atau tuntutan agama, lahir golongan yang mudah sekali  mengafirkan orang Islam, padahal mereka tidak mengingkari ajaran Islam sedikit pun.

Karena kesempurnaan ajaran Islam  yang dibawa oleh Rasulullah, hal yang akan terjadi di masa akan datang sudah diberikan penawarnya sebelum beliau wafat. Sabda Rasul saw., “Siapa melaknat seorang mukmin sama dengan membunuhnya, dan menuduh seorang mukmin dengan kekafiran adalah sama dengan membunuhnya.” Sabdanya yang lain, “Siapa saja yang berkata kepada saudaranya ‘Hai, Kafir!’, maka terkena salah satunya, jika vonisnya itu benar. Dan jika tidak, maka akan kembali kepadanya (orang yang mengucapkannya).”

Korelasi dari Hadis Nabi dan fenomena yang terjadi adalah dianjurkannya  kewaspadaan terhadap tindakan mengafirkan terhadap orang lain, terlebih jika orang yang dituduh adalah orang Islam. Sangat disayangkan jika hal ini kembali terjadi dewasa ini, golongan yang beranggapan dirinya sudah mengikuti Sunnah Nabi dengan benar, sehingga menyalahkan golongan lain di luarnya, hanya karena amaliah yang berbeda, bukan masalah yang prinsip dalam agama. Syaikhul Islam ibn Taimiyah berkata, “Orang yang duduk di majelis, kutahu bahwa aku termasuk orang yang paling besar pelarangannya dari (perbuatan) menyandarkan kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan kepada orang tertentu. Kecuali bila diketahui telah tegak hujjah kepadanya yang jika diselisihi seseorang (maka ia) bisa jadi kafir, bisa jadi fasik atau bisa jadi pelaku maksiat.”

.

Belajarlah bijaksana dalam menanggapi masalah,  karena kebenaran mutlak hanya milik pencipta langit dan bumi. Kebenaran tidak bisa dimonopoli oleh siapapun sekaya dan sehebat apapun dia. Karena itu, berhati-hatilah dalam bertindak adalah usaha dasar agar tidak timbul masalah-masalah baru yang bisa merusak hubungan yang harusnya terjalin erat, dan ibadah yang mestinya dilakukan dengan tenang.

Emha Ainun Najib mengatakan, “Jika seseorang menghakimi orang lain kafir, berarti ia ‘menutupi’ haknya Allah. Tidak hanya menutupi, bahkan ada orang atau lembaga yang mengklaim bahwa pemberi stempel kafirnya seseorang adalah haknya.”

Sebagai negara yang menjunjung kemajemukan bermasyarakat, bahasa kita memiliki istilah sendiri untuk menyebutkan seseorang sebagai kafir yaitu dengan sebutan “non Muslim”. Meskipun hanya sebagai istilah dalam interaksi sosial saja, namun tidak menghilangkan substansi atau pesan khusus tentang makna kafir yang sebenarnya. Karena terdapat kesan tertentu dalam interaksi sosial ketika menggunakan istilah kafir, yaitu makna pedas di telinga dan rasa sakit di dalam hati.

Semakin orang berhati-hati dan memahami makna kafir yang sebenarnya, maka ia akan semakin berhati-hati menyematkan istilah kafir terhadap orang lain. Karena Rasulullah sudah mewanti-wanti pada kita agar tidak mudah mengafirkan orang lain, terlebih jika ia masih saudara seiman, biarlah Allah yang menentukan kekafiran dan keislaman kita, itu hak prerogatif Allah terhadap makhluk-Nya. Cukuplah kita menyebarkan perdamaian dan persaudaraan kepada sesama, agar tercipta kerukunan dan kenyamanan ketika bersosial dan beribadah.

Pernikahan Bukanlah Pembuktian Cinta

Entah siapa yang kali pertama memrovokasi, dosanya besar sekali pasti. Ada yang bilang, bukti cinta adalah pernikahan. Kalau cowok tidak berani ngelamar ke orangtua si cewek, pasti si cowoknya cuma main-main doang. Tidak betulan cinta.

Bukan apa-apa. Pacar saya akhir-akhir ini minta nikah mulu. Bercandanya juga sudah tidak lucu. Lah, kan saya masih anak sekolah ya, baru semester dua. Di luar negeri pula. (Maaf, kata-kata ‘luar negeri’ dengan berat hati harus saya sertakan. Ini terpaksa, karena masih berhubungan dengan konteks tulisan. Sekaligus pamer, sih). Terus nikahnya macam mana? Nikah online? Terus begituannya gimana? Online juga? Anaknya? Download?

Cinta itu sesuatu, dan pernikahan itu sesuatu yang lain. Sama sekali berbeda. Banyak sekali orang yang saling mencinta, tapi tidak menikah. Ada yang sudah menjadi sepasang suami istri, tapi tidak saling mencintai.

Ini harus saya katakan. Karena pasti banyak sekali laki-laki yang mengalami penderitaan, lantaran cintanya dianggap palsu oleh kekasihnya.

Maka, siapapun Anda, apalagi yang sudah menikah, berhentilah mengompori gadis-gadis untuk merendahkan martabatnya, mengemis-ngemis minta dinikah. Dan kita sebagai laki-laki, selain harus menjaga diri dari perbuatan yang melanggar norma-norma, jangan kemudian menurut begitu saja, bak kerbau yang dicocok hidungnya. Hanya bermodal tidak punya malu, lalu menggondol anak orang. Mari kita tunaikan dengan baik segala persiapan, baru kemudian menuju gerbang pernikahan, agar tidak terlalu banyak sampah manusia yang semakin menurun kualitasnya.

Pernikahan itu bukan main-main loh, sayang. Suami wajib menafkahi istrinya lahir batin. Lah, kalau yang rokok saja masih njoin, koreknya dapet minjem nggak dibalikin, lalu menjalin pernikahan, LDR pula … Nafkah lahir tidak terpenuhi, nafkah batin hanya bisa lewat online. Kalau kuota habis, gimana?

Pernikahan bukanlah bukti dari cinta. Kamu tahu, mengapa dalam Islam ada poligami? Karena, ketika itu, ada orang yang hendak menikahi perempuan yatim yang banyak hartanya. Ia tidak cinta. Ia hanya ingin menikahi untuk bisa mendapat hartanya. Lalu turunlah ayat tentang poligami (poligini), “Maka jika kamu khawatir tidak bisa berlaku adil pada wanita-wanita yatim, (karena kamu hanya mengharapkan harta mereka, dan bukan karena mencintai mereka, maka jangan nikahi mereka) Menikahlah saja dengan apa (yakni wanita) yang kamu cintai, dua, tiga, atau empat. Dan kalau kamu menduga tidak mampu berbuat adil (jika berpoligami) maka menikahlah dengan seorang wanita saja.” (Q.S. Al-Nisā’: 3)

Tapi sebaiknya, kita tidak perlu bermain dalil. Karena sejatinya, dalil hanyalah karet yang bisa kita tarik ulur ke mana saja kita mau. Dan cinta tidak butuh dalil. Kecuali cinta-cinta karet. Sana-sini lengket.

Gak Mondok Gak Keren

Sejak kali pertama jargon itu beredar di media, saya sudah tidak menyukainya. Saya lebih suka seandainya ada ungkapan “Gak Montok Gak Semok”.

Menurut saya, mondok itu bukan buat keren-kerenan. Dan untuk menjadi keren, tidak harus mondok. Juga, tidak semua–jika enggan berkata tidak banyak–orang mondok yang keren.

Kita tidak akan memperdebatkan definisi keren dalam tulisan singkat ini. Sudah gamblang, dan kita juga telah sama-sama tahu, bahwa apa yang dimaksud dengan “keren” dalam “Gak Mondok Gak Keren” bukanlah keren yang berkonotasi pada seseorang yang menenggerkan aksesoris mahal pada tubuhnya. Karena santri yang betulan santri, seringkali rambutnya malah acak-acakan, tanpa minyak rambut, tanpa tersisir, langsung dibungkus songkok hitam yang telah menjingga oleh senja. Baju kokoh yang berbintik-bintik hitam lantaran bekas wudu, yang hilang beberapa beniknya, atau diganti dengan warna yang berbeda-beda. Memakai sarung dan membiarkan apa yang berada di dalamnya terlantung-lantung. Sendalnya jepit, sisihan, kadang sama-sama kanan, itu pun hasil gasapan.

Tentu bukan itu yang dimaksud dengan “keren”. “Keren”-nya santri adalah pandainya membaca kitab gundul, memaknainya dengan utawi iki iku, hafal ribuan bait nazam dan syair, atau kelihaiannya melantunkan ayat-ayat suci. 

Saya tidak suka dengan ungkapan “Gak Mondok Gak Keren”, karena telah beredar demikian banyak produk pondok yang ternyata tidak keren, dan yang tidak pernah mondok justru tidak kalah keren. Parahnya, yang pernah mondok-mondok itu, kerap nyinyir pada mereka yang tidak pernah mondok. Jika ada kiai yang bukan berlatar belakang pondok, seolah itu merupakan salah satu pertanda kiamat besar yang akan segera terjadi. Padahal, yang nyinyir itu sendiri nggak bisa baca kitab gundul, nggak tau i’rab setiap kata, tidak hafal nazam dan syair, dan baca Alquran pun tidak keruan tajwidnya.

Entah sejak kapan masyarakat seolah membuat peraturan: “Untuk menjadi kiai, harus pernah mondok sekian tahun.” Padahal yang disebut-sebut oleh para ulama dalam kitab-kitab klasik, itu belajar, bukan mondok. Belajar tanpa mondok itu lebih mulia ketimbang mondok tanpa belajar. Dari sekian keterangan yang ada dalam ayat Alquran maupun Kadis, yang oleh Allah ditinggikan derajatnya itu, orang yang berilmu, bukan orang yang lulusan pondok. Yang boleh ditanya tentang agama dan mengajarkannya, itu yang berilmu, bukan yang alumni pondok. Yang menjadi pewaris nabi itu yang berilmu, bukan yang jebolan pondok. Al-‘Ilmu Syai’, wal Mondok Syai’un Akhar.

Kata mereka, menjadi ustad dan kiai di Indonesia gampang. Gampang apanya? Buktinya Anda tidak bisa. Lalu tiba-tiba, melalui lubang sempit bernama “media sosial”, Anda memenuhi mulut dengan aneka hujatan dan umpatan.

Kalau memang jadi ustad gampang, ya Anda dadio ustad. Dalam perustatan, nyatanya malah Anda kalah jauh dari yang Anda katakan sebagai “Ustad selebritis”, dan tidak pernah mondok itu.

Seburuk-buruk mereka, yang tidak pernah mondok itu, mereka berani loh menyuarakan kebenaran, meskipun kebenaran yang disuarakan terkadang justru kesalahan. Dan itu salah Anda. Katanya jadi ustad mudah, tapi Anda tidak jadi. 

Sejak kali pertama jargon “Gak Mondok Gak Keren” itu beredar di media, saya sudah tidak menyukainya. Saya lebih suka seandainya ada ungkapan “Gak Montok Gak Semok”.

Eta terangkanlah …

Hidup di Indonesia Itu Rumit Sekali

Artis berjenggot tidak boleh berjoget

Ustazah tidak boleh menjawab persoalan agama

Dokter tidak boleh meninggal dunia

.

Papan pengumuman tertancap di mana-mana:

Pengemis tidak boleh meminta-minta

Pengamen tidak boleh mendendangkan nada

Kalau sudah terlanjur bernyanyi

“Di sini pengamen gratis, Mas,” katanya

.

Ini lama-lama,

Nelayan tidak boleh miyang

Petani tidak boleh macul

Peternak tidak boleh ngarit

Penggembala tidak boleh angon

Orang ngantuk tidak boleh angop

Tidur tidak boleh merem

Rokok tidak boleh disedot

Kopi tidak boleh disruput

Maling tidak boleh nyolong

Manten anyar tidak boleh kelon

Dan begitu seterusnya

.

Dan akan senantiasa ada peraturan-peraturan baru di Indonesia

.

Ini pasti karena pemerintah tidak becus

Ini pasti lantaran rezim yang zalim

Ini pasti gara-gara Jokowi jadi presiden

Coba kalau jadi Prabowo

Pasti tidak akan jadi presiden…

.

2019 maju maneh ora, Wo?

Wali dan Ulama

Nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad, dianugerahi berbagai mukjizat berupa kejadian-kejadian yang nulayani adat. Sebab, masyarakat ketika itu sulit diajak untuk ngilmiah. Maka Nabi Isa harus repot-repot membuat mainan burung-burungan dari tanah liat yang kemudian mampu diterbangkan, Nabi Musa harus repot-repot adu sulap dengan para penyihirnya Firaun. Dan lain sebagainya. 

Pada mula-mula berdakwah, Nabi Muhammad juga pernah menggunakan kesaktian yang serupa. Konon, pernah sampai membelah bulan. (Lihat film “Bulan Terbelah di Langit Amerika”. Tapi sepertinya tidak ada hubungannya, sih. Lihat surah al-Qamar ayat pertama saja) 

Tapi masyarakat ketika itu sudah mulai kritis. Sudah bukan saatnya lagi disuguhi mukjizat yang irasional seperti itu. Maka dianugerahkanlah Nabi Muhammad dengan mukjizat yang diyakini oleh para ulama dan sebagian besar umat Islam sebagai mukjizat teragung, yaitu Alquran.

Alquran adalah kitab suci yang sangat ilmiah. Dalam ayat-ayatnya, manusia sering diajak untuk berpikir, merenung, dan piknik untuk mengamati alam raya. Tatabahasanya sangat indah, yang tidak akan pernah tertandingi oleh sastrawan manapun. Masyarakatnya pun geleng-geleng dan turut mempelajari. Yang ingkar tetap ingkar bukan karena tidak terpukau. Tapi semua itu lantaran telah tertutup hatinya oleh kekafiran, atau hasud yang telah menggerogoti akal sehatnya.

Ulama Indonesia, saat masyarakatnya masih gemar dengan klenik, mereka pun menunjukkan karamahnya. Seperti berjalan di atas air, atau ke Mekkah melalui galian tanah. Tapi saat ini, yang semacam itu agaknya sudah tiada lagi dibutuhkan.

Masyarakat Indonesia saat ini sudah lumayan cerdas. Maka seorang kiai tidak perlu lagi wiridan terlalu lama, atau puasa setiap hari, lalu menyuruh muridnya untuk melakukan hal serupa, agar kemudian menjadi wali dapat karamah, lalu mengenyampingkan ngaji. Kiai saat ini tidak usah lagi mempelajari ilmu kebal santet, sebagaimana dulu ketika ada orangtua yang ingin memondokkan anaknya, dites dulu, kiainya kebal santet atau tidak. Selama kiai tidak neko-neko, tidak ngintip santri putrinya mandi, atau melakukan kejahatan kelamin pada santri, atau melakukan percakapan mesum melalui media sosial, atau paling bukan, tidak terlalu menampakkan namanya di kancah nasional, Insyaallah aman.

Yang harus dilakukan pendidik saat ini adalah mendidik dan mengajarkan ilmu. Bukan menyuruh tirakat noto sandal atau angon wedus. Yang paling penting dan dibutuhkan zaman ini adalah ilmu.

Jika yang dididik telah berilmu, berhasil mewarisi keilmuan gurunya (yang ngalim tentu saja), atau melebihi, maka dengan otomatis dia akan menjadi wali. Karena setiap ulama pasti wali, dan yang wali belum tentu ulama. 

Kewalian ulama itu enak. Karena ulama yang wali biasanya tidak punya karamah yang aneh-aneh. Sehingga sang wali tidak perlu lagi menyembunyikan kekeramatannya.

Dihilangkan total juga sebaiknya jangan. Tapi saya yakin, wali-wali yang berkaramah masih banyak, walau tiada nampak. Menurut hemat saya, di pesantren-pesantren tidak usah lagi diajarkan hal-hal yang beraroma klenik. Mending dimbing moral dan diajarkan keilmuan sampai menjadi ulama.

Yang harusnya belajar ilmu-ilmu seperti itu adalah ormas FPI. Mereka kan gemar sekali menjuluki dirinya sebagai “Nahi Mungkar”. (Ungkapan mereka yang sangat populer adalah: NU itu bertugas Amar Makruf, sedang FPI bertugas Nahi Mungkar) Agar tidak berbuat anarkis saat berdakwah. Maka saya sarankan, seyogyanya mereka mempelajari ilmu karamah, biar bisa berdakwah dengan santun seumpama Gus Miek.

Catatan: Yang dimaksud Nahi Mungkar adalah mencegah kemungkaran. Bukan nahi dari kata dasar tahi.

Area Sensitif

Setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, pasti memiliki area sensitif, yang apabila disentuh, ia akan menggeliat, menggelinjang, dan melakukan apa saja yang tidak biasa ia lakukan.

Area sensitif seseorang hanya dapat diketahui oleh orang yang dekat dengannya, minimal mengenalnya. 

Area sensitif orang berbeda-beda. Bulu boleh sama-sama keriting, tapi aromanya tetap berbeda. Dada boleh sama-sama gemol, tapi perasaan tidaklah sama. Ada orang yang ketika dicaci maki tentang fisiknya tidak pernah marah, tapi begitu disentuh masalah ekonominya yang terpuruk, ia langsung murka. Ada yang jika disinggung soal kemiskinannya, bahkan dihina orangtuanya, tidak marah. Tapi begitu dikucilkan lantaran warna sempaknya, langsung naik darah. 

Melalui itu semua, kita dapat mengukur bagaimana kebaikan seseorang. Saat menguraikan tentang bagaimana memilih kawan, para ulama menawarkan: perhatikan tatkala mereka marah. Jika dalam kemarahannya tidak menyentuh area sensitif kita, maka dialah yang sebaiknya dijadikan sahabat.

Sahabat yang baik bukan hanya yang apabila kita utang dia tidak pernah menagih, dan apabila dibayar pura-pura lupa lalu menolaknya. Lebih daripada itu, sahabat yang baik adalah sahabat yang menjaga diri tidak menyentuh area sensitif sahabatnya.

Pesta Seks Dek Ustad

Berbicara tentang “seks” itu ada ilmunya, Dek Ustad. Apalagi jika sudah dimasukkan dalam babakan agama. Termasuk berhumor tentangnya.

Jangan Dek Ustad duga, Dek Ustad adalah orang pertama yang berbicara tentang seks dalam sudut pandang agama. Di pesantren, di pengajian kampung-kampung, malah ada yang lebih vulgar daripada ceramah Dek Ustad di Trans TV itu, dalam acara “Islam itu Indah” itu, dalam rangka “Pesta Seks” itu. Hanya saja, mereka (para kiai pesantren dan kiai kampung itu) menyampaikan dengan ilmu dan kebijaksanaan. Memiliki dasar dan kesadaran, di mana mereka berbicara, kapan mereka berbicara, bagaimana cara mereka berbicara, dan kepada siapa mereka berbicara.

Alhamdulillah Dek Ustad sudah menyadari tentang kesalahan Dek Ustad, dan sudah berani berterus terang dengan berkata, “Itu semua karena kedangkalan ilmu saya.” 

Entah apa motif Dek Ustad meminta maaf dengan berkata demikian. Mungkin atas nama “kerendahhatian”. Tapi saya lebih melihatnya sebagai “kejujuran”.

Namun, melihat kasus Dek Ustad ini, saya aturkan begitu banyak terima kasih, karena kemudian saya menjadi sadar, betapa benar apa yang dahulu Bapak saya katakan, dan apa yang Habib Ali, kiai saya, dawuhkan, saat saya memohon izin untuk mengikuti sebuah kompetisi ceramah di televisi. 

Dalam waktu yang berbeda, tempat yang berbeda, dan tentu saja orang yang berbeda – walau keduanya memiliki posisi yang sama di hati saya, berkata pada saya kalimat yang sama: “Bagaimana seandainya kamu sudah terkenal sebagai pendakwah, tapi tidak ada ilmu yang dapat kamu sampaikan kecuali kekosongan?”