Warung Teologi (Bagian 1) “Iman dan Islam”

 

Pramusaji : Ahmad Rofi’

 

Pengertian Iman dan Islam

Menurut bahasa, Iman bermakna percaya atau membenarkan sesuatu. Sedangkan dalam sudut pandang istilah Iman adalah membenarkan segala sesuatu yang datang dari Rasulullah, yang bersifat dharuri. (Dharuri yang dimaksud disini bukanlah dharuri yang biasa dikenal dalam istilah ilmu Mantik. Dharuri di sini adalah Syibh Dharuri. Pada mulanya ia adalah nadzari, tapi karena sudah adanya penalaran para ulama sejak munculnya Islam, sehingga menjadi masyhur sampai di kalangan orang awam, maka seakan-akan ia adalah dharuri) Yakni, membenarkan dalam arti percaya dan menerima hal-hal tersebut, baik secara umum terhadap hal yang ijmali, maupun secara terperinci pada hal yang tafshili.

Adapun Islam menurut bahasa berarti tunduk atau berserah diri. Menurut istilah, Islam adalah melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, yakni mengikuti dan menaati apa yang datang dari Rasulullah, yang bersifat dharuri.

Dari pengertian tersebut menunjukkan bahwa Iman itu berkaitan dengan urusan batin seseorang, karena adanya pembenaran terhadap sesuatu atau keyakinan atasnya merupakan pekerjaan hati. Sedangkan Islam berhubungan dengan perbuatan lahirnya, karena tanda-tanda ketaatan orang tersebut dilihat dari apa yang tampak dari dirinya.

Terkait orang yang beriman itu cukup percaya dengan hatinya, atau harus disertai pelafalan atau ikrar dengan lisan, atau juga harus disertai adanya amal, ulama berbeda pendapat dalam menempatkan kedudukan dua hal tersebut dalam Iman. Mayoritas ulama Asyari dan Maturidi berpendapat bahwa ikrar adalah syarat dari iman, dan amal merupakan syarat kesempurnaan iman, sehingga keduanya tidak termasuk dalam pengertian atau bagian dari Iman. Jadi, kepercayaan seseorang dalam hatinya adalah hal yang menyelamatkannya dari keabadian di neraka, dan ikrarnya dengan lisan yang mempengaruhi perlakuan hukum di dunia terhadapnya, sedangkan amal perbuatannya adalah gambaran kesempurnaan imannya.

Ada yang berkata, pelafalan lisan adalah bagian dari iman, sehingga tidak diakui iman seseorang sampai ia mengikrarkannya. Ada pula yang mengatakan bahwa selain percaya dan berikrar, juga harus disertai dengan amal supaya diterima iman seorang tersebut. Perbedaan pendapat ini yang kemudian memunculkan kelompok-kelompok seperti Khawarij dan Muktazilah.

Namun, perbedaan pendapat para ulama tentang dibutuhkannya beberapa unsur dalam keimanan tersebut, sesungguhnya diperuntukkan bagi orang yang kafir asli ketika hendak masuk Islam. Sedangkan orang yang terlahir dari orangtua yang Islam, tidak lagi dituntut untuk berikrar sebagai bukti keimanannya dan dasar perlakuan hukum di dunia terhadapnya.

 

Keterkaitan Iman dan Islam

Iman dan Islam dari pengertiannya menunjukkan makna dan cakupan yang berbeda, meskipun keduanya ber-talazum (saling berkaitan) menurut syariat, dilihat dari obyeknya (yang melekat padanya status Iman atau Islam), setelah sama-sama dilihat dari satu sudut pandang yaitu sisi yang diakui dari keduanya. Jadi, tidak ada orang yang beriman, yang bukan muslim, dan juga tidak ada orang muslim, yang tidak beriman.

Adapun pernyataan adanya orang yang sudah beriman tapi belum Islam, atau orang yang sudah Islam tetapi belum beriman, hal ini bisa dibenarkan ketika hanya melihat bahwa Iman adalah pekerjaan hati dan Islam adalah pekerjaan fisik, tanpa memandang syarat dan ketentuan bagi keduanya untuk diakui menurut syariat. Maka, orang yang hanya percaya pada Allah dan apa yang diturunkan pada Rasulullah tapi tidak melaksanakan perintah-perintah-Nya, dia adalah orang yang beriman, tapi tidak Islam. Orang yang turut serta melakukan kegiatan keagamaan, tapi jika dalam hatinya tidak percaya pada Allah dan apa yang diturunkan pada Rasulullah, maka ketika itu dia orang Islam tapi tidak beriman.

Perbedaan sudut pandang dalam menggunakan istilah tersebut berpengaruh dalam menghukumi keimanan dan keislaman orang munafik dan kaum kafir Quraisy. Orang munafik, secara lahir ia Islam, tetapi batinnya tidak benar-benar beriman. Sedangkan kaum kafir Quraisy dalam beberapa riwayat ada yang menyatakan kebenaran risalah Ralulullah tetapi tidak mengikuti dan menaatinya, percaya (beriman) tetapi tidak tunduk dan taat (Islam). Meskipun begitu, keduanya secara syariat (di hadapan Allah) tidaklah beriman maupun berislam.

 

Bertambah dan Berkurangnya Iman

Ulama berbeda pendapat apakah iman dapat bertambah dan berkurang atau tidak. Pendapat yang rajih menyatakan bahwa Iman dapat bertambah dan berkurang dengan bertambah dan berkurangnya amal. Karena kepastian bahwa iman orang-orang yang fasik tidaklah sama dengan iman para Shiddiqin, Anbiya, dan para Rasul. Selain itu, ada pula dalil-dalil dari Alquran maupun Hadis yang secara lahir membahasakan bertambah dan berkurangnya Iman.

Ada pula yang mengatakan Iman tidaklah bertambah dan tidak pula berkurang, karena pembenaran hati yang mencapai batas yakin tidak tergambarkan adanya bertambah maupun berkurang di dalamnya. Ketika kepercayaan berkurang, maka merupakan dzan (prasangka), dan itu bukanlah Iman.

Menanggapi perbedaan tersebut, ada yang mengatakan bahwa perbedaan disini bukanlah secara hakiki, melainkan secara lafzi saja. Dengan gambaran, perbedaan tersebut bermula dari perbedaan tentang hakikat Iman itu sendiri seperti dijelaskan dalam pengertian Iman, bahwa Iman itu mencakup adanya ikrar dan amal atau tidak. Jadi, bertambah dan berkurangnya Iman diarahkan terhadap makna Iman yang mencakup kesempurnaannya, yakni dengan bertambah dan berkurangnya amal atau ketaatan seseorang. Dan yang menyatakan bahwa Iman tidak bertambah dan tidak berkurang diarahkan pada sisi pembenaran yang bersifat qalbi dari makna Iman.

Namun demikian, mayoritas ulama menggabungkan perihal bertambah dan berkurangnya iman dalam tiga macam :

  1. Iman yang dapat bertambah dan berkurang, yaitu iman manusia dan jin pada umumnya. Melihat adanya keterpautan dalam ketaatan mereka yang berkaitan dengan kesempurnaan Iman.
  2. Iman yang bertambah dan tidak berkurang, yaitu iman para Nabi dan Rasul. Karena orang yang sempurna (yakni para Nabi dan Rasul) menerima adanya kesempurnaan, dan tidak menerima adanya kekurangan, termasuk dalam hal Iman.
  3. Iman yang tidak bertambah dan tidak berkurang, yaitu imannya para malaikat. Karena Iman mereka merupakan jibillah, yakni asli dari tabiat diciptakannya mereka. Dan hal yang merupakan tabiat itu tidak ada keterpautan di antara pemiliknya.

 

Tingkatan Iman

Ditinjau dari dasar Iman seseorang, muncul pengelompokan Iman yang menunjukkan tingkat keimanan mereka, yakni Iman yang didasari :

  1. Taqlīd, yaitu iman yang timbul dari mengikuti ucapan seorang guru tanpa adanya dalil. Iman ini bagi orang-orang awam.
  2. ‘Ilm, yaitu iman yang timbul dari pengetahuan terhadap akidah-akidah disertai dalil-dalilnya. Iman ini adalah bagi orang-orang yang memiliki pengetahuan.
  3. ‘Ayān, yaitu iman yang timbul dari adanya pengawasan hati terhadap Allah sekiranya tidak luput dari-Nya walau hanya sekejap mata. Inilah Iman orang-orang ahli murakabah.
  4. Haqq, yaitu iman yang timbul dari kesaksian atau penglihatan hatinya terhadap Allah. Ini adalah Iman orang-orang yang arifin dan disebut sebagai ahl al-musyahadah.
  5. Haqīqah, yaitu iman yang timbul dari ketiadaan kesaksiannya selain pada Allah. Dan ini merupakan Iman orang-orang waqifīn, atau yang disebut sebagai ahl fanā’. Karena mereka meniadakan segala sesuatu selain Allah, dan tidak menyaksikan kecuali Allah.

Adanya pengelompokan ini sesuai dengan pendapat mayoritas ulama yang menyatakan bahwa Iman orang yang betaklid tetap sah, sehingga bisa menyelamatkannya dari kekalnya yang bersangkutan di neraka. Dan dalam redaksi lain masih ada pengelompokan tingkat Iman seseorang yang didasari dengan taklid.

 

Pokok dari Akidah

Dalam agama Islam dikenal adanya sebutan Kalimat Al Islam, yaitu kalimat Lāilāhaillallāh Muẖammadurrasūlullāh. Ini merupakan dua jumlah kalimat yang menjadi pokok atau sumber dari semua pembahasan dalam ilmu Tauhid. Kandungan makna dari kedua kalimat tersebut menunjukkan Islam itu sendiri sehingga dinamakan demikian. Segala permasalahan akidah muncul darinya, baik yang berkaitan dengan ketuhanan, kenabian, maupun kepercayaan terhadap segala yang diberitakan oleh Rasulullah, yang masuk pembahasan Sam’iyāt.

 

Tambahan tentang Iman

Iman adalah makhluk. Dalam arti, Iman adalah hal yang diciptakan Allah, sehingga bersifat hādits (hal yang baru). Karena adakalanya Iman itu (muncul) bersamaan dengan (munculnya) pembenaran (keyakinan) dalam hati atau bersama ikrar dengan lisan, yang keduanya merupakan makhluk.

Adapun ketika dikatakan bahwa Iman itu qadīm, yakni dengan memandang adanya hidayah, yang hidayah itu sendiri merupakan sesuatu yang hādits. Sedangkan Iman itu qadīm, maka hal itu keluar dari hakikat Iman. Maksudnya, mengatakan qadimnya Iman bisa dibenarkan jika yang dilihat adalah ketetapan Allah yang Azali (Qadha’) terkait Iman tersebut, bukan hakikat Iman sesuai maknanya. Allahu A’lam. []

Iklan

2 tanggapan untuk “Warung Teologi (Bagian 1) “Iman dan Islam”

  1. Menarik kajian teologinya. Setidaknya, saya bljar ttg sudut pandang Islam dlm hal ini: iman dan Islam.

    Dan kalau bgtu, berarti saya termasuk org yg tdk beriman tp Islam skligus org Islam, tp tdk beriman, 😇😇

    Ini warung teologi blm ada yg komen, mungkin krn udah jlas kali ya. Mohon maaf, ijinkan sya brtanya, tp maaf klo agak luncas:

    Apkah Anda pernah dngar ada yg berpendapat bhwa iman itu adalah perasaan nyaman myakini sesuatu, dan dtangnya ujug-ujug? Ap pndpt Anda ttg prnytaan tsb?

    Terimakasih

    Disukai oleh 1 orang

    1. Perasaan nyaman dan datangnya ujug-ujug, setahu saya itu adalah cinta, Kang. Mungkin yang berkata demikian, ia sedang kasmaran.

      Tapi, pertanyaan sampean sebenarnya sudah terjawab oleh artikel di atas. Pada tingkatan-tingkatan iman. Dan memang ada iman yang pada tingkat itu.

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s