Menabung Untuk Buku (2)

Ada yang berkata, “Orang-orang saleh itu rezekinya dicukupkan Allah.” 

Ungkapan tersebut ada benarnya, tapi banyak salahnya. Saya tidak akan berbicara tentang kenikmatan-kenikmatan yang telah melekat seperti pancaindra, kesehatan, dan lainnya yang tak terhitung jumlahnya. Jika saya menyebut kata “rezeki”, maka yang saya maksud adalah rezeki material, atau rezeki eksternal.

Ungkapan itu banyak salahnya, karena pada kenyataannya, Allah selalu mencukupkan rezeki pada semua makhluknya, yang saleh maupun yang belum saleh, atau yang tidak saleh, bahkan yang tidak akan pernah saleh. Bukankah kita lihat banyak sekali orang yang tidak pernah salat, tapi hidupnya berkecukupan. Dan bukankah kita melihat banyak sekali orang saleh yang sebenarnya sudah dicukupi tapi merasa kurang?

Rezeki ada di tangan Allah, dan akan diberikan kepada siapa saja yang bergerak. Bergerak dalam arti kerja, maupun bergerak dalam arti hidup. Karena tidak ada orang yang bekerja tapi tidak hidup. Kecuali penjual sate di film-film Susana, atau hantu-hantu narsis di Dunia Lain dan Uka-Uka.

Semua orang yang hidup, pasti dijamin rezekinya. Jika jatah rezekinya telah habis, maka kematian akan menghampirinya. Barangkali itu sebabnya mengapa orang-orang yang mati syahid dikatakan, “Jangan duga orang-orang-orang yang terbunuh dalam peperangan di jalan Allah adalah orang-orang mati. Mereka itu hidup dan masih selalu diberikan rezeki.”

Rezeki sudah dijamin. Keinginan pasti akan tercapai jika disertai dengan niat, yakni tekad yang kuat. Kita telah melihat begitu banyak orang yang seakan tidak mampu, hanya penjual bubur misalnya, tapi mampu naik haji. Atau bukankah banyak yang sudah berumah tangga, punya anak, belum punya kerja, tapi mampu bayar SPP anaknya, mampu beli motor walau kredit? Dan banyak lagi yang lainnya.

Tapi, semua ada prosesnya. Hukum alam yang kemudian bekerja. Kun Fayakun Allah bukanlah bim salabimnya para penyihir. Dia menyukai proses hamba-Nya sebagai ujian siapa yang paling baik kualitas amalnya.

Menabung untuk buku adalah salah satu upaya meningkatkan kualitas amal. Karena membaca adalah perintah pertama yang diturunkan Tuhan dalam ayat suci-Nya.

Orang yang menabung untuk buku, pasti mampu membeli buku. Sebagaimana orang yang menabung untuk lainnya, walau dalam rangka kemaksiatan, pasti akan tercapai keinginannya, selama ia tidak berputus asa atau berbelok arah.

Tabungan bisa cepat terkumpul bergantung upaya kita dan tentu saja kehendak Tuhan. Dalam postingan “Menabung Untuk Buku” yang pertama, saya ceritakan betapa berlikunya hingga saya dapat membeli Tafsīr al-Thabarī. Dan selanjutnya, saya hendak menabung lagi untuk membeli Tafsīr al-Sya’rāwi (20 jilid) yang juga sudah lama sekali saya idam-idamkan. Akhirnya terbeli juga, bahkan sebelum uangnya masuk ke celengan. Malahan, masih lebih, dan kembaliannya bisa terbelikan Shafwah al-Tafāsīr (3 jilid) karya Syekh Ali ash-Shabuni dan Al-Ibdā’ Syarh al-Ijmā’ karya Syekh Muhammad bin Ibrahim al-Naisaburi yang disyarah oleh Syekh Akram bin Hamdin.


Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi adalah salah satu ulama Mesir yang demikian fenomenal, yang dikenal oleh masyarakat Mesir baik di kalangan intelektual maupun orang-orang awam. Ia juga termasuk ulama kontemporer yang keharuman namanya tercium di seluruh dunia. Beliau disebut-sebut oleh para ulama sebagai wali Allah dan mujaddid yang hanya ada sekali dalam kurun seratus tahun.

Saya sendiri mengenal pertama kali saat saya membaca Tafsir al-Mishbah-nya guru kami, Yai M. Quraish Shihab. Di sana, sering sekali Pak Quraish mengutip pendapat gurunya itu. Sewaktu masih di Indonesia, salah satu diktat yang kami pelajari di pesantren adalah Tafsīr asy-Sya’rāwī ini, yang diampuh oleh Dr. K.H. Husnul Hakim. 

Sesampai di Mesir, saya melihat foto Syekh Sya’rawi ada di mana-mana. Bahkan di setiap usaha di pinggir jalan, hampir semuanya ada foto Syekh Sya’rawi terpajang. Dan pengalaman yang paling indah di antara semua itu adalah: kami dipertemukan oleh Allah dalam sebuah mimpi yang begitu memesona.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s