Menabung Untuk Buku

Saya ke Mesir hanya bermodal dengkul dan keberuntungan. Tiket keberangkatan dikasih Habib. Dapat kembalian 50 dollar, saya entit buat sangu. 

Dapat satu bulan di Mesir, hape saya hilang di Terminal Ramsies sepulang dari acara Mulutan. Entah kecopetan, atau terjatuh seperti terjatuhnya aku dalam pelukanmu malam itu.

Saat itu juga, saya bertekad untuk tidak hape-hapean. Mau fokus belajar saja. 

Dua puluh jam kemudian, sejak hilangnya hape yang disertai tekad tidak hape-hapean itu, kurang dari satu jam selanjutnya saya mampu mengumpulkan uang sebanyak 900 Pound. Malam itu juga saya ke Konter Vodafon untuk membeli hape baru. 

Uang itu hasil utang. Dan agar mampu melunasinya, saya harus nyambi bekerja.

Seminggu kemudian, ada pameran buku terbesar di Mesir, atau pameran buku Islam terbesar di dunia. Saya amat sangat sakit hati. Dan saya hanya bisa gigit jari sambil menggerutu meratapi betapa kejamnya hidup ini.

Teman-teman saya mulia banget hidupnya. Tinggal ngomong, “Pa, minta duit, buat beli buku.” Dikirimlah 100, 200, 300, 400, 500 Dollar sesuai yang dikehendaki anaknya.

Sementara saya, harus terjegal dalam mencuci piring, ngepel, membuatkan minuman, dan segala jenis perbabuan lainnya di Restoran Malaysia demi menutupi utang.

Saya juga pengin beli buku. 

Akhirnya saya menabung. Uang dari minhah dan gaji menjadi babu itu saya bagi tiga. Sepertiga untuk nyicil utang. Sepertiga untuk kebutuhan hidup, seperti udud, kopi, transportasi, sabun, sampo, sikat gigi, odol, lipstik, pembalut (luka), dan lain sebagainya. Sepertiganya lagi saya masukkan dalam celengan yang sudah saya tulisi “Untuk Buku”.

Awalnya saya sempat menulisinya sebagai “Tabungan Umroh”. Dan tulisan iseng itu hampir mengubah niat saya dari ingin membeli buku menjadi ingin berangkat umrah beneran. Tapi teman sekamar saya menasihati, “Semua ada waktunya. Kita ini pelajar. Haji dan umrah ada waktunya sendiri. Setiap saya mendapat uang , saya selalu gunakan untuk membeli buku. Saya lebih memilih buku daripada pergi umrah. Buku-buku saya itu, kalau diuangkan, sudah bisa buat pergi umrah berkali-kali, bahkan haji.” Akhirnya saya tersadarkan kembali.

Sayang, tidak lama kemudian saya terpaksa berhenti kerja. Si Bos Ruslan kalah tender. Kena Yusuf, dan dia tidak mempekerjakan selain dari kalangan mahasiswa Malaysia sendiri.

Saya nganggur, dan tabungan saya tidak pernah terisi. 

Beberapa bulan kemudian saya mendapat tawaran jadi imam masjid. Saya senang sekali. Pasti gajinya besar sekali.

Tapi satu bulan kemudian saya tertampar oleh niat busuk saya. Gajinya kecil. Dan akhirnya saya tidak lagi niat bekerja. Tapi niat ibadah. Dan alhamduillah. Saya bisa mengumpulkan uang darinya. 

Sialnya. Saat uang mulai terkumpul, Pound Mesir inflasi gede-gedean. Harga buku naik dua kali lipat, bahkan lebih. 

Dan, saya rasa itu bukan sebuah alasan sebagai berhenti menabung untuk buku.

Baru saja, buku yang sudah lama saya idam-idamkan akhirnya terbeli. Tafsir al-Tabari, tahkikan Syekh Mahmud Syakir, terbitan Darus Salam.

Setelah menabung berbulan-bulan.

Buku saya memang baru segini. 

Mungkin terlihat nggak pelajar banget. Tapi itu kalau diwujudkan keringat, beeuh… bisa buat sajian buka puasa sampai lebaran.

“Yang penting beli dulu,” kata guru saya. “Kalau bisa ya dibaca. Tapi Insyaallah kalau sudah punya pasti terbaca. Paling tidak, judulnya. Karena penulis yang baik adalah yang lebih banyak membaca daripada menulis.”

Iklan

32 tanggapan untuk “Menabung Untuk Buku

  1. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    udud, lipstik…Cinta rasa ga prlu mas Tauhid.

    Kisahmu mayan mas, bs jd pembelajaran. Sambil cengar-cengir Cinta ini bacanya. Terharu sambil nyengir. πŸ˜πŸ˜‚πŸ˜…

    Disukai oleh 1 orang

      1. Bang aku ini cewek bang. Emang nama alfu itu nama cowok kali ya, kok kalo pertama kali kenal sering banget dikira nama cowok πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s