Agama, Dalil, dan Badut Syar’i

Agama adalah dalil. Dalil adalah agama. Dari sekian asas-asas beragama, hampir semuanya perlu dalil, baik akli maupun nakli. Maka tidak heran, jika orang-orang beragama gemar sekali berdalil. 

Dolanan dalil. Wah… seneng banget saya. Makanya, saya itu gemes sekali kalau sampai ada dua kubu saling serang dengan senjata dalil.

Dulu, kiai-kiai partai juga sering menggunakan dalil. Yang memilih PKB bilang, “Wa Lā Taqrabā Hadzihī al-Syajarata!” Maksudnya, jangan pilih Golkar.

Yang memilih Golkar bilang, “Walā Tufsidū fi al-Ardh.” Maksudnya, jangan coblos PKB. 

Dan itu berlanjuuut sampai sekarang, dan mungkin akan selalu terus menerus hingga ratusan generasi yang akan datang. 

Dewasa ini, kita telah dihadapkan dengan sebuah pagelaran wayang manusia, dengan judul: “Pertarungan Antara Pemerintah dan Ulama”. Yang diperankan langsung oleh Jokowi dan Habib Rizieq.

Tidak ada yang menarik dari pertarungan dua manusia itu kecuali kementusisme para pembelanya.

Di salah satu status Facebooknya, Pak Kumis (karena puasa, saya tidak menyebut nama, untuk menghindari Kamm Min Shā’imin), dedengkot NU Garis Lurus (Saking lurusnya, ibarat kendaraan sampai nggak mau belok. Ono uwit ditabrak. Ono pager ditabrak. Ono rondo ditabrak. Ada jurang, malah ndlungup, alasannya, ini garis yang lurus), mengutip sebuah Hadis:

إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ يَكْذِبُونَ وَيَظْلِمُونَ، فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ، فَصَدَّقَهُمْ بِكِذْبِهِمْ، وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَلَيْسَ مِنِّي، وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ، وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ، وَيُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ، وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الْحَوْضَ 

Sesungguhnya sesudahku akan ada para penguasa, yang selalu berdusta dan berbuat zalim. Barangsiapa yang masuk kepada mereka, lalu membenarkan kebohongan mereka dan membantu mereka atas kezaliman yang mereka lakukan, maka ia bukan termasuk golonganku, aku bukan termasuk golongannya dan ia tidak akan mendatangiku di telaga. Barangsiapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka, dan tidak menolong mereka atas kezaliman yang mereka lakukan, maka ia termasuk golonganku, aku termasuk golongannya dan ia akan mendatangiku di telaga.

Maksud dari Pak Kumis, penguasa yang berdusta dan zalim itu yo Jokowi. Karena pemerintahannya dituduh sebagai rezim yang mengkriminalisasi ulama. Ulama yang dimaksud yo Habib Rizieq kui. Tok. 

Sementara nun jauh di sana. Yang diduding-duding sebagai dedengkot JIL (Jaringan Iblis Laknatullah), yang di Indonesia dianggap setengah kafir dan di Amerika dianggap kurang kafir, mengutarakan sebuah dalil ayat suci:

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ ♡ هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ

Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan suka menghina. Yang suka mencela. Yang kian kemari menyebarkan fitnah.

Yang dimaksud dengan suka bersumpah adalah mubahalah atas tuduhan chat mesum. Suka menghina dan mencela adalah menghina Jokowi dan banyak ulama yang berbeda pandangan dengannya. Menyebarkan fitnah itu ya mungkin grudak-gruduk aksi berjilid-jilid itu.

Baik dari dedengkot NU GL maupun dari dedengkot JIL, atau dari apapun dan siapapun juga, jika ada dalil digunakan sebagai alat untuk memecahkan masalah dengan perpecahan, anggap saja itu banyolan. Anggap saja mereka adalah badut syar’i.

Demikian, Wallahu A’lam.

Iklan

7 tanggapan untuk “Agama, Dalil, dan Badut Syar’i

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s