Serban, Jubah, dan Serba-Serbi Ramadan

Ramadan. Bukan Ramadhan. Bukan Romadhon. Bukan Romadlon. Apalagi Ramelan. 

Jangan duga ia hanya sekadar kata. Ia adalah nama. Harus ditulis dengan sebenarnya. 

Memang, banyak sekali istilah dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Arab. Tapi karena sudah diserap, maka harus benar-benar terserap. Harus mengikuti aturan bahasa Indonesia. Dan dalam bahasa Indonesia, hanya ada empat gabungan huruf yang melambangkan satu konsonan, yaitu: kh, ng, ny, dan sy. Maka tidak ada dh, dl, dan lain sebagainya (seperti sh, dz, gh, th, ts, dll). Juga, dalam aturan serapan, bacaan tebal dalam huruf-huruf Hijaiah yang memiliki baris atas (fathah), harus ditulis dengan “a”, bukan “o”. Meskipun cara bacanya boleh tetap dengan “o”. Tulisannya “Ramadan”, tapi boleh dibaca “Romadhon” sesuai versi Arabnya: رمضان

Salat. Bukan shalat. Bukan sholat. Bukan solat.

Tarawih. Bukan teraweh. Bukan tarweh. 

Isya. Bukan Isyak. Bukan Isya’.

Subuh. Bukan Shubuh.

Zuhur. Bukan Dzuhur. Bukan Juhur.

Asar. Bukan Ashar.

Magrib. Bukan Maghrib. 

Musala. Bukan mushola. Bukan mushalla. 

Alquran. Bukan Al-Qur’an. Bukan al-Quran. 

Hadis. Bukan Hadits.

Khataman. Bukan qotaman. 

Empat juz. Bukan empat milyar campuran. Lucu ya, orang-orang itu. Istilah-istilah keberagamaan digunakan sebagai istilah kezaliman.

Ustaz. Bukan ustad. Bukan ustadz. Bukan ustas. Bukan ustak. Banyak orang memanggil saya “Ustadz”. Saya katakan pada mereka, “Jangan panggil saya ‘Ustadz’.” Mungkin mereka kemudian menduga saya Tawadu. Padahal yang saya kehendaki, “Panggil saya ‘Ustaz’, bukan ‘Ustadz’. Itu tidak sesuai dengan KBBI.”

Kiai. Bukan kyai. Bukan kiyai.

Kultum. Bukan qultum.

Tausiah. Bukan taushiyah.

Nasihat. Bukan nasehat. Bukan nashihat.

Istigfar. Bukan istighfar. Bukan istipar. 

Doa. Bukan do’a. Bukan du’a’. Doa istri salehah. Bukan dua istri yang manja.

Amin. Bukan Aamiin. Bukan Amien Raies. Bukan Amintabah.

Iktikaf. Bukan i’tikaf. 

Istikamah. Bukan istiqamah. Bukan istiqomah.

Beduk. Bukan bedug. Bukan beud.

Azan. Bukan adzan. Bukan ajan.

Sahur. Bukan saur. Bukan sakur.

Buka puasa. Bukan buka katok. Tapi ada juga, sih, riwayat yang menganjurkan agar buka puasa dengan “buka katok”. Lalu mandi besar, salat Magrib, makan, salat Isya, Tarawih, lalu melanjutkan ibadah-ibadah lainnya dan tidak terganggu lagi dengan tema “buka katok”. 

Serban. Bukan surban. Bukan serbet.

Jubah. Bukan Jubaidah. Kalau digoyang, uh ah uh ah.

Iklan

10 tanggapan untuk “Serban, Jubah, dan Serba-Serbi Ramadan

  1. jangan panggil saya ustadz

    😅😅😅

    Eh btw, mas Nuhid, Cinta koq dicomplain lg sma sahabat. Jangan ngomong Amin tapi Aamiin.

    Kenapa ga dimasukkan ke postingan? Nanti kan bs Cinta forward jd ga capek-capek mnjelaskan hehe 😀

    Suka

  2. Kalau tausiah gmn nulisnya mas Nuhid?

    Dapat ilmu kata-kata ni. Ternyata ustaz, Ramadan, Salat. Anda seorang linguis? Bnar gak pertanyaan saya, dan juga penulisannya?
    Ditunggu.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s