​Perihal Manut Guru

Saya belum pernah menerima pertanyaan lucu selucu ini: “Jika kiai saya menyuruh begini, apakah saya boleh begitu? Apakah jika kiai saya begitu, saya boleh begini?”
Ini bukanlah perkara hitam putih. Ada demikian banyak warna dalam jawaban dari pertanyaan Anda. Insyaallah saya akan meringkasnya dalam satu postingan berikut ini:

Pertama. Dalam hal kewajiban, apa yang diperintahkan oleh guru harus dilaksanakan. Antara lain perintah yang berkaitan dengan syariat: salat fardu, puasa Ramadan, zakat, dan lain sebagainya. 

Atau dalam dunia pendidikan. Jika guru memerintahkan mengerjakan PR, maka wajib bagi murid untuk menunaikannya. Jika Kiai memerintahkan hafalan Alquran, hafalan Hadis, hafalan nazam-nazam, mantan-matan, dan lain sebagainya, maka itu wajib ditaati.

Kedua. Jika berhubungan dengan sesuatu yang mubah, kita bisa memilih. Misalnya kiai Anda suka Madrid, Anda juga boleh suka Madrid. Tapi tidak wajib. Anda juga boleh njago Celsi, EmYu, Liferpul, ataupun Persela. 

Tapi biasanya, dalam kategori kedua ini, secara otomatis, seorang santri akan tertular dengan kiainya. Seperti cara duduknya. Cara dehemnya. Bagaimana memejamkan mata. Intonasi suaranya. Berjalannya. Lagu sewaktu maknani kitabnya. Yang semacam ini terserah santri mau niru kiainya atau tidak.

Ketiga. Jika berhubungan dengan apa yang dilarang oleh agama dan buruk dalam sudut pandang budaya, maka harus ditolak.

Misalnya, seorang santri putri yang diajak jimak (baca: ngencuk) oleh kiainya tanpa dinikahi terlebih dahulu. Maka santri itu wajib menolaknya. 

Bagaimana jika diiming-iming ilmu yang berkah?

Pilih uangnya saja. Eh, maksud saya, tinggalkan saja. Bahkan ketika ia mengutukmu sebagai ilmumu tidak akan bermanfaat, tinggalkan saja.

Guru yang sering mendoakan tidak bermanfaatnya ilmu, hindari saja. Tidak ada keberkahan dalam dirinya.

Seumpama pula. Hanya umpama. Seorang kiai mengajak para santrinya untuk Aksi Bela Raisa di Monas, dengan tuntutan penjarakan tunangannya, sekaligus potong tangan dan kakinya untuk berbuka puasa. Hanya karena keceplosan ngomong bahwa jangan mau berbuka pakai kurma 51, lalu difitnah menista kurma. Maka hal seperti ini wajib dihindari.

Bagaimana jika guru saya itu wali?

Sewali-walinya, kau tidak akan tahu kewalian seseorang kecuali kau juga wali. Atau kecuali Allah memberitahumu bahwa dia itu wali sebagaimana Musa diberitahu bahwa Khidir itu wali. 

Namun demikian, jika pun yang bersangkutan adalah wali, hukum syariat tetap berjalan. Itu sebabnya al-Hallaj, walau dalam sudut pandang hakikat dia benar, tapi dalam syariat tetap harus dihukum. Demikian pula yang terjadi pada Maulana Siti Jenar di tanah Jawa.

Apalagi yang kewaliannya gak jelas. Ukuran kewalian itu tidak bisa dihitung dari jumlah pengikutnya, Cuy. 7 juta lah. 7 juz campuran lah. Apalagi pengikut bayaran. Sego bungkusan. Segonya habis. Wes warek. Segonya diboikot.

Andaipun kewaliannya jelas. Kalau ketahuan makar, atau menghina pancasila, atau menista agama sebelah, atau menghina kepala negara, atau menghina ibunya kepala negara, atau berbuat mesum, harus tetap melalui proses hukum. Dipanggil, datangi. Jangan menghindar terus. Kemarin aja ngrengek-ngrengek minta si Cino segera diadili. Emangnya nggak kangen sama Dek Firza?

Item yang ketiga ini yang harus paling tebal digarisbawahi. Karena banyak yang kemudian kecelik.

Bahkan jika seorang kiai sangat ngalim dalam bidang agama, jangan kemudian mengamini setiap fatwanya terkait apa yang tidak diketahui. Misalnya tentang ormas preman. Kiai itu tidak tahu. Tahunya hanya dari orang, bahwa ormas preman itu menegakkan amar makruf nahi mungkar. Atau dia terlalu tahu, sehingga terbutakan oleh gemerlap kegelapannya.

Jangankan kiai, Rasulullah pun, tidak harus Anda ikuti setiap lelampahannya. Jika Rasulullah pipis dengan jongkok, kamu jangan ikut jongkok di tempat pipis berdiri karena alasan meniru Rasulullah. Jika Rasulullah buang air besar dengan jongkok, kamu jangan kemudian jongkok di WC duduk karena alasan meniru Rasulullah. Rasulullah kalau berbuka puasa pakai kurma. Kalau kamu adanya ote-ote, kolek, kopi karo udut, ya nikmati saja.

Selamat beramadan.