Perempuan Kuat, Perempuan Lemah

Dalam derajat keagamaan, lelaki dan perempuan memang memiliki porsi yang sama. Tapi dalam kehidupan, bagaimana pun juga, lelaki dan perempuan sama sekali berbeda. 

Di satu keadaan, perempuan memang lebih kuat. Mereka lebih kuat dalam hal perasaan. 

Perempuan sanggup bertahun-tahun menyembunyikan rasa cintanya. Sesekali mereka memang diam-diam memberi kode, tapi meski lelakinya gak peka-peka, mereka akan tetap kuat bertahan untuk mencintai dalam diam, kecuali perempuannya sudah benar-benar gatel dan basah. 

Perempuan lebih kuat dalam hal kesetiaan. Survey membuktikan, perempuan yang ditinggal suaminya, oleh perselingkuhan maupun kematian, 75% mereka lebih memilih menjanda. 50% memang karena serius merawat anak dan meyakini dirinya mampu menjadi single parent yang luar biasa, tapi 25% lainnya bilang, katanya janda lebih menggoda. 

Sementara lelaki yang ditinggal istrinya, oleh perselingkuhan maupun kematian, 75% mereka akan menikah lagi, 25% nya memilih untuk menduda dalam 40 hari, setelah itu nikah lagi. Ada yang belum ditinggal istrinya, sudah menikah lagi, ada yang dengan izin istrinya, ada yang diam-diam sampai tujuh tahun baru ketahuan.

Perempuan setengah lelaki, atau perempuan pencilakan binti petakilan binti kurang belaian, akan memrotes kitab suci atau meminta agar ayat-ayat bidadari ditafsir ulang. Kata mereka, ayat-ayat bidadari terlalu mendiskreditkan perempuan. Tapi perempuan yang anggun, tidak akan mempermasalahkan itu. Mereka bahkan tidak peduli. Karena perempuan sejati adalah perempuan yang kuat bertahan dengan satu cinta.

Kata orang, perempuan lebih rela suaminya menikah lagi daripada ia diceraikan dan menikah dengan orang lain yang tidak dicintai.

Namun, di keadaan yang lain, perempuan adalah kelemahan dan ketidakberdayaan.

Logika perempuan lebih lemah dan dangkal. Survey membuktikan, perempuan yang sudah jatuh cinta pada lelakinya, 80% rela mempersembahkan itunya pada kekasihnya meskipun belum dinikahi. Logika mereka sangat lemah dan tidak mampu berpikir walau dalam jarak satu menit kemudian. 20% lainnya, yang nggateli namun tetap memegang prinsip keagamaan, akan berkata, “Halalkan atau tinggalkan!”, yakni halalkan dengan cara menikahiku, agar kita lebih leluasa berbuat begitu. Atau tinggalkan, yakni tinggalkan kecupan atau sekadar cupangan saja. Jangan lebih dari itu. Dosa.

Dan yang paling penting untuk diperhatikan adalah, perempuan memiliki fisik yang tidak lebih kuat daripada lelaki. Maka lelaki yang paling jahat adalah lelaki yang membiarkan perempuannya lelah. Dan apabila perempuan sampai mengeluh “Hayati lelah, Bang.” Ketika itu lelaki akan mendapat laknat sampai Subuh.

Beberapa hari yang lalu, Nabi Musa as. melihat dua orang yang berseteru. Jiwa nasionalis kesukuan yang mendarah daging dalam dirinya membuat ia lupa untuk bertanya siapa yang bersalah. Musa langsung membela saudaranya, dan memukul lawannya. Tangannya yang kekar itu ditinjukan pada lawan, dan hanya dengan sekali pukulan tepat pada nadi kehidupan, yang dipukul langsung kejang-kejang, terus mati. 

Masyarakat Qibti umup otaknya. Nyawa harus dibalas nyawa. Mereka merencanakan balas dendam untuk menghabisi Musa. 

Musa pun pergi dari Mesir mencari keselamatan. 

Langit mendung, mengakibatkan jaringan internet mengalami gangguan. GPS-nya tidak berfungsi, Musa pun berlari tanpa tahu ke mana arah ia berlari.

Sampailah ia di Madyan. Di sana ia melihat kerumunan orang sedang memberi minum ternaknya. Sementara tidak jauh darinya ada dua gadis yang menghalau ternak-ternaknya.

Musa menghampiri dua gadis itu dan bertanya, “Ada yang bisa saya bantu?”

Dua gadis itu tersipu. Dengan menunduk dan mengucek-ucek ujung bajunya, salah satu dari mereka angkat bicara, “Kami hendak mengambil air untuk minum ternak kami. Dan tentu kami harus menunggu orang-orang itu selesai memberi minum ternak-ternaknya. Kami tidak punya saudara laki-laki. Sementara ayah kami sudah demikian sepuh.”

Sekonyong-konyong Musa menerobos kerumunan orang-orang dan mengambilkan air untuk minum ternak dua gadis itu. Kelak, salah satu dari dua gadis ini yang akan menjadi istri Musa. (Selengkapnya, nantikan buku terbaru saya: “Alquran Bercerita” yang akan segera terbit).

Jadilah Musa, jangan jadi pengerumun danau yang tidak memiliki belas kasih pada wanita.

Jadilah lelaki yang membawakan barang belanjaan istrinya, jangan menjadi lelaki yang membiarkan istrinya otong-otong belanjaannya sendiri. Kasihan, sudah ke mana-mana membawa dua gunung, masih harus membawa yang lain.

Jadilah lelaki yang kuat, yang tidak membiarkan perempuan berdiri di dalam bis, sementara Anda enak-enakan duduk seperti orang tidak punya dosa. Badan gede duwur, weteng kotak-kotak, kalau tidak bisa berdiri yo sami mawon, Cak. 
Dalam Alquran, lelaki yang sempurna disebut dengan ar-Rijāl, mereka memiliki sifat Qawwāmūn. Qawwamūn bukan hanya berarti mampu berdiri. Kalau lelaki hanya bisa berdiri, itu namanya Zakar. Rijāl yang Qawwāmūn adalah lelaki yang mampu mengayomi perempuannya, meneduhkan, mengamankan, menenangkan, dan menunaikan segenap tanggung jawab kelelakiannya. 

Puncak kerapuhan lelaki adalah ketika sudah tidak bisa berdiri lagi. Dan lelaki yang tidak kuasa berdiri saat melihat perempuan, ketika itu ia menderita penyakit yang sangat kronis. Lemah. Dan perlu dihajar jahannam.

Iklan

12 thoughts on “Perempuan Kuat, Perempuan Lemah”

      1. Kata orang begitu. Tapi saya belum pernah melihat.
        Baru-baru ini, terdengar kabar, di asrama tempat kami tinggal, ada yang ketahuan membawa hajar jahannam. Dia langsung dikeluarkan.

        Suka

      2. Wuihh, rupanya hajar jahannam adalah momok dan sumber persangkaan serius ya, tak ubahnya seperti kondom. Di mana ada kondom tergeletak, pikiran akan berprasangka macam-macam 😄

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s