Bakasan Selangkangan Dalam Perspektif Agama

Sini, Kang. Saya baru saja menyedu kopi. Tidak banyak, hanya satu cangkir kecil bertutup pentil, semoga cukup untuk menghilangkan penat yang kauderita. Tidak manis, agar nikotin dalam paru-parumu akibat rokok yang kaukonsumsi ternetralisir. Seruputlah pelan-pelan dan jangan terlalu agresif. Nikmati pahitnya, nikmati sensasinya.
Saya ingin memberitahumu sedikit tentang sopan santun. Dengarkan, dan anggukkan kepala jika sudah paham!

Sopan santun adalah Adab. Dari bahasa asalnya, Adab memiliki arti sastra. Orang yang kualitas sastranya baik, mampu meletakkan pada porsinya, yang dilakukan dinamai dengan Husnul Adab. Yang sastranya buruk, dinamai dengan Su’ul Adab.

Seorang anak yang mengomentari berat badan ibunya, “Mak, Koen kok tambah kuru ae. Ndasmu sampek kimpes kabeh ngono. Iku ndas toh plembungan…” Ini adalah contoh Suul Adab. Padahal, jika dilakukan dengan tutur yang halus, perempuan mana yang tidak bahagia dibilang langsing?

“Bukan itu yang saya penasarankan, Kang. Tapi sikap sampean yang cenderung sering menyampuradukkan perihal agama dan selangkangan.” Sampean menyela sebelum saya buka sesi tanya jawab. Baiklah, tidak mengapa.

Begini, Kang. Kalau sampean rajin ngaji, sampean akan sering menemui kata-kata yang oleh sementara orang dianggap tabu. Mungkin karena bahasa Arab terlalu indah, sehingga bahasan selangkangan pun terkesan seperti doa. Kata “Dzakar” misalnya. Hurufnya sama persis dengan kata “Dzikir”, begitu juga dengan kata “Dzakara”. Bahkan, untuk menyebut lelaki, bukan saja hurufnya yang sama, tapi juga harakatnya. Sama-sama “Dzakar”. Bayangkan kalau kata-kata seperti ini berlaku di Jawa. Seorang ayah sangat gembira setelah lahir buah hatinya. Lalu dengan girang berkata pada tetangganya, “Lur… anakku kont (sensor).”

Demikian juga kata Farji dan Rahim. Dua kata itu jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi cukup aneh. Padahal dalam bahasa Arab, “Farj” bisa berarti kenyamanan, kebahagiaan, solusi permasalahan. Dan kata “Rahim” bisa berarti cinta dan kasih sayang. 

Di sementara pesantren, tidak jarang kiai-kiai memaknai kata-kata tersebut dalam bahasa Jawa apa adanya, itu lebih simpel dan tidak perlu memperpanjang keterangan. Ada kiai yang terlalu menjaga muru’ah, tapi ujung-ujungnya menjelaskan juga. Ada yang dengan bahasa metafora, misalnya memaknai “Hasyafah” dengan “heleme manuk”. Santri yang telat mikir mungkin malah akan menyangka manuk yang dalam arti sesungguhnya: binatang berkaki dua, berbulu, dan bersayap. Lalu mungkin akan berfantasi, “Ternyata manuk punya peraturan berkendara juga. Pantesan manuk kutilang sering ditilang, gak pernah pakai helm sih.”

“Bukan gitu, Kang.” Sampean menyergah lagi. Seakan-akan jawaban panjang saya tidak sesuai pertanyaan.

“Lalu apa?”

“Masalahnya, bagaimana jika anak kecil juga ikut mendengar atau membaca bakasan ini?”

Begini, Kang. Kesalahan terbesar orang tua dalam mendidik anak adalah: mereka membiarkan anaknya berjalan sendiri, tanpa diberi bimbingan, tanpa dikasih tuntunan, sehingga jika mereka tersesat, mereka akan benar-benar tersesat. Jika orang tua menyuruh anaknya ke Jakarta, orang tua harus memberi alamat yang lengkap, yang jelas. Jika tidak, mereka akan mencari sendiri. Iya kalau nyasarnya di Monas atau Istiqlal, kalau di Kalijodo?

Demikian pula dengan seputar selangkangan. Berapa banyak anak yang sudah mulai baligh tapi belum mengerti cara mandi jinabat?

Jika anak tidak dikenalkan yang begituan dengan baik, saat ia mendengar kata “sperma”, maka yang terbesit dalam otaknya boleh jadi adalah cairan yang muncrat di wajah gadis cantik asal Japaness. Itu orang tuanya loh yang dosa. Namun, jika sejak dini anak dididik dalam lingkungan religius yang anggun, ketika mendengar kata “sperma”, maka yang terbetik dalam benaknya adalah babakan syariah. Misalnya: sperma adalah bahan penciptaan manusia, itu sebabnya mayoritas ulama tidak menghukumi najis, meskipun ia keluar Min Ahad as-Sabīlayn, tapi yang bersangkutan dihukumi berhadats, dan harus mandi jinabat, baik keluarnya karena mimpi basah, maupun hasil persebadanan pasangan suami istri. Jika Hasyafah seorang lelaki masuk ke Farji pasangannya, keluar sperma maupun tidak, tetap wajib mandi. Permulaan kebalighan anak lelaki adalah keluarnya sperma di usia 9 tahun (kalender Hijriah) ke atas. Jika sebelum itu, maka tidak. Jika tidak pernah keluar sperma, maka balighnya terhitung sejak usia 15 tahun (kalender Hijriah). 

Anak yang tidak dididik dalam lingkungan religiusitas yang intensif, saat mendengar kata “darah haid”, maka yang terbayang olehnya adalah …

“Stop! Kita lanjutkan nanti lagi. Berikan saya waktu untuk menyeruput kopi racikanmu yang mulai dingin.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s